Hadapi Kemarau 2026, Pemkot Samarinda Tingkatkan Kewaspadaan Karhutla
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Pemkot Samarinda meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan lebih kering.
Fokus utama diarahkan pada upaya mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran permukiman di seluruh wilayah Kota Tepian.
Sebagai langkah mitigasi, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menerbitkan Imbauan Nomor 300.2/0913/300.06 tentang kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau serta pencegahan kebakaran.
Kebijakan tersebut merujuk pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) akan mengalami musim kering yang lebih panas dari biasanya, dengan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026.
Analis Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Hamzah Umar, menjelaskan edaran tersebut disusun agar masyarakat memiliki kesiapan yang matang dalam menghadapi potensi bencana selama periode tersebut.
“Tahun ini diperkirakan lebih kering dan panas dari biasanya, dengan puncaknya pada Juli sampai September,” jelas Hamzah pada Selasa, (14/4/2026).
Menyikapi risiko tersebut, pemerintah melarang keras aktivitas membuka lahan dengan cara membakar.
Larangan ini juga mencakup pembakaran sampah di pekarangan rumah, lahan kosong, maupun area pertanian, terutama saat kondisi angin kencang dan suhu udara tinggi.
Selain itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran di area permukiman dengan memeriksa instalasi listrik secara berkala.
Hal ini penting untuk menghindari arus pendek (korsleting) yang kerap menjadi penyebab utama kebakaran saat cuaca ekstrem. Hamzah menuturkan, beban listrik sering kali berlebih ketika suhu udara meningkat.
“Suhu dari luar sudah panas, di dalam juga terjadi kelebihan arus, misalnya satu stopkontak digunakan untuk beberapa alat elektronik besar. Itu sebenarnya tidak diperbolehkan,” ujarnya.
Ia pun menyarankan perangkat berdaya besar seperti penyejuk udara (AC) atau kulkas menggunakan jalur kabel tersendiri agar tidak memicu beban berlebih.
Dari sisi geografis, BPBD mencatat dua kecamatan yang paling rawan mengalami karhutla adalah Samarinda Utara dan Palaran. Karakteristik wilayah tersebut masih didominasi lahan pertanian dengan jarak permukiman yang relatif jarang.
“Selama ini yang paling sering terjadi di dua kecamatan tersebut karena wilayahnya masih banyak lahan pertanian dan permukimannya belum padat,” terangnya.
Dalam imbauan yang sama, Pemkot Samarinda juga meminta masyarakat bijak menggunakan air bersih mengingat potensi menipisnya sumber air baku.
Bagi warga di sektor pertanian, dianjurkan menyiapkan tampungan air seperti embung atau sumur dalam sebagai cadangan.
Dari sisi kesehatan, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan pada siang hari serta meningkatkan konsumsi air putih guna menghindari dehidrasi.
Informasi tersebut telah disebarluaskan hingga tingkat RT melalui koordinasi camat, lurah, dan jaringan relawan. Jika menemukan titik api, maka masyarakat diminta segera melapor kepada pihak terkait agar penanganan dilakukan secara cepat dan tepat.
“Segera lapor ke RT setempat, BPBD, atau petugas Disdamkarmat (Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan) karena posko pemadam tersedia di 11 titik yang tersebar di 10 kecamatan,” pungkasnya.
Editor: Erwin










