Dalam beberapa pekan terakhir, limpasan air dilaporkan meningkat hingga masuk ke bagian dalam rumah warga.
Ketua RT 02, Ratna Utariah, mengatakan perubahan kontur lahan di area proyek membuat air yang sebelumnya terserap tanah kini mengalir deras ke kawasan yang lebih rendah. Ia menyebut parit yang ada tidak mampu menampung debit air ketika hujan intens.
“Begitu hujan deras, air langsung turun dan menumpuk di halaman hingga ke dalam rumah warga. Saluran yang ada jelas tidak memadai,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ratna menambahkan, drainase yang dibangun oleh kontraktor dinilai terlalu kecil sehingga tidak mampu menahan volume air dari area proyek. Kondisi ini menyebabkan sedikitnya tujuh rumah terdampak, mulai dari garasi hingga dapur ikut tergenang.
Situasi tersebut mendorong warga meminta pihak pengembang segera melakukan penanganan sebelum kerusakan semakin meluas.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Samarinda, Basuni, menjelaskan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) proyek berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Meski begitu, ia menilai pemerintah kota seharusnya dilibatkan sejak awal karena proyek berada di wilayah Samarinda.
“Kami idealnya terlibat memberikan masukan teknis terkait kondisi lingkungan sekitar,” ujarnya.
DLH Samarinda berencana melakukan pengecekan langsung ke lokasi serta berkoordinasi dengan pengembang untuk mencari solusi.
Sementara itu, Lurah Sungai Pinang Dalam, Novi Kurnia Putra, menyampaikan ia bersama RT dan warga telah meninjau proyek pada Rabu (8/4/2026). Menurutnya, pihak kontraktor mengakui adanya dampak dari aktivitas pemadatan tanah.
“Pengembang berjanji mendata rumah terdampak dan memperbaikinya setelah proyek mendekati akhir,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak pengembang juga berkomitmen melakukan evaluasi teknis untuk mencegah air hujan kembali mengalir ke permukiman.
“Mereka akan mengatur ulang kemiringan lahan dan membuat parit sementara agar air tidak lagi masuk ke rumah warga,” pungkasnya.
Editor: Erwin