Upaya ini dilakukan untuk meminimalkan risiko kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat dan lahan kering.
Berdasarkan data Disdamkarmat Kota Samarinda tahun 2026, tercatat 20 kejadian kebakaran pada Januari, 13 kejadian pada Februari, dan 14 kejadian pada Maret. Kawasan permukiman menjadi yang paling rawan, dengan delapan kejadian pada Januari dan lima kejadian pada Februari.
Selain itu, sejumlah faktor lain turut memicu kebakaran, seperti korsleting listrik, kebocoran gas, kebakaran kendaraan, serta kebakaran lahan.
Kepala Disdamkarmat Kota Samarinda, Hendra AH, menegaskan bahwa seluruh personel dan armada saat ini dalam kondisi siaga penuh.
“Damkar selalu dalam posisi siaga 24 jam. Kalau ada kebakaran lahan yang mendekati permukiman warga, kami langsung bergerak untuk melakukan pemadaman,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Hendra menyebutkan, prioritas utama penanganan adalah menjaga keselamatan masyarakat serta mencegah api merembet ke kawasan padat penduduk.
Ia menjelaskan, penanganan kebakaran lahan yang jauh dari permukiman, seperti di kawasan hutan atau semak belukar, menjadi kewenangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Meski demikian, pihaknya tetap siap bersinergi dalam upaya penanganan.
“Kalau kebakarannya di lahan yang jauh dari permukiman, itu ranah BPBD. Tapi jika kami diminta menyuplai air atau bantuan lainnya, kami siap karena ini untuk masyarakat Samarinda,” tegasnya.
Tren awal tahun juga menunjukkan kebakaran lahan telah terjadi tiga kali pada Januari. Sementara insiden akibat korsleting listrik dan kebocoran gas terus mendominasi pemicu kebakaran.
Hendra mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga instalasi listrik, menyediakan alat pemadam sederhana, dan tidak membakar sampah sembarangan.
“Musim kemarau mempercepat penyebaran api. Kewaspadaan bersama adalah kunci pencegahan,” pungkasnya.
Editor: Erwin