Kepala Pelaksana BPBD Samarinda Suwarso mengatakan, peringatan BMKG mengenai kemarau yang datang lebih awal mendorong pihaknya memperkuat langkah mitigasi.
Menurutnya, kondisi tahun ini berpotensi lebih kering dibanding tahun sebelumnya sehingga risiko kebakaran meningkat.
“Musim kemarau maju lebih cepat. Bahkan sebelum April, suhu sudah mulai naik dan ini harus kami antisipasi sejak dini,” ujarnya, Senin (30/3/2026)
Ia menjelaskan beberapa titik di Samarinda sudah mengalami kebakaran lahan skala kecil. Meski cepat tertangani kejadian tersebut menandai naiknya kerawanan. BPBD pun telah berkoordinasi dengan Damkar, BPBD Provinsi Kaltim, serta relawan di seluruh kecamatan untuk memastikan kesiapan personel dan peralatan.
“Kami sudah menyiapkan tim di wilayah rawan dan memastikan relawan siap memberikan penanganan awal,” tambahnya.
Salah satu tantangan utama ialah minimnya sumber air saat pemadaman terutama di area lahan terbuka. Karena itu, keberadaan embung dinilai penting untuk mempercepat respons.
“Sering kali air sulit didapat saat terjadi kebakaran. Embung menjadi solusi agar pemadaman tidak terhambat,” jelasnya.
BPBD juga kembali menegaskan larangan membuka lahan dengan cara membakar. Praktik tersebut masih sering menjadi penyebab utama karhutla di kawasan pinggiran kota.
“Jika warga melihat tanda-tanda kebakaran, segera laporkan ke Pusdalops agar kami bisa bergerak cepat,” tegas Suwarso.
Wilayah Palaran, Sambutan, Sungai Kunjang, dan Loa Janan Ilir masuk kategori rawan tinggi. Selain itu, suhu mencapai 34 derajat Celsius dapat memicu dehidrasi dan kelelahan.
“Kami mengimbau masyarakat menjaga kesehatan dan membatasi aktivitas di bawah terik matahari,” ujarnya.
Suwarso berharap kolaborasi seluruh elemen masyarakat dapat meminimalkan dampak kemarau. “Dengan kerja sama semua pihak, risiko kebakaran bisa ditekan,” tutupnya.
Editor: Erwin