Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota (Disdamkarmatan) Samarinda Hendra AH menjelaskan hal itu saat dikonfirmasi Korankaltim.com pagi tadi. “Sekitar 20 kios berbahan kayu terbakar, merembet ke 24 ruko disekitarnya, jadi totalanya ada sekitar 40 bangunan yang terdampak,” kata Hendra.
Proses pemadaman berlangsung cukup lama mengingat kondisi lokasi yang padat dan material bangunan yang mudah terbakar. Petugas membutuhkan waktu hampir dua jam untuk mengendalikan kobaran api. “Pemadaman hampir dua jam. Kami menurunkan unit dari enam posko, masing-masing dua sampai tiga unit mobil pemadam,” jelas Hendra lagi.
Kendala utama petugas berada pada akses memasuki area kios. Meski jalan utama Pasar Segiri di Jalan Pahlawan itu cukup besar, lorong menuju petak-petak kios sangat sempit sehingga menyulitkan kendaraan maupun personel pemadam. “Akses dari luar besar, tapi masuk ke dalam petak-petak kios sangat menyulitkan anggota dan relawan,” paparnya.
Mengenai sumber api, Hendra menerangkan informasi yang diterima masih simpang siur dan belum dapat dipastikan. Ia menegaskan pihak berwajib akan melakukan pemeriksaan lanjutan. “Ada yang bilang dari kompor, ada juga dugaan listrik. Tapi nanti pihak berwajib yang mengecek,” sebut Hendra lagi.
Hendra juga membenarkan adanya keributan kecil antara warga dan relawan akibat situasi panik. Ia kembali mengimbau masyarakat agar memberikan ruang bagi petugas pemadam saat bekerja. “Kami selalu mengimbau warga memberi ruang untuk damkar dan relawan tapi di setiap kebakaran tetap saja ada gesekan antarwarga,” ungkapnya.
Petugas saat ini masih melakukan pendinginan dan pendataan kerugian. Diberitakan sebelumnya, api berkobar tinggi dari deretan kios kayu di Pasar Segiri Samarinda dini hari tadi saat sebagian pedagang hendak memulai aktivitas shar-hari mereka di kawasan tersebut.
Asap hitam membumbung pekat ke udara, sementara teriakan pedagang bercampur dengan suara runtuhan bangunan, membuat warga panik berlarian, berusaha menyelamatkan barang dagangan ditengah kobaran yang terus membesar.
Editor: Aspian Nur