Langkah ini merupakan bagian dari strategi adaptasi di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim global hingga dua derajat celsius.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Kick Off Kajian Risiko Banjir di Samarinda melalui kerja sama dengan program Flood Impacts, Carbon Pricing and Ecosystem Sustainability (FINCAPES).
Program ini merupakan komitmen adaptasi iklim Pemerintah Kanada yang diluncurkan sejak forum G20 di Bali dan dilaksanakan oleh University of Waterloo bersama universitas lokal di Indonesia.
Project Officer Flood Risk, Mawardi Muhammad menjelaskan bahwa khusus untuk Samarinda, program difokuskan pada komponen risiko banjir dengan indikator proyeksi kenaikan suhu global.
“Kajian ini memproyeksikan kondisi banjir 10 tahun, 25 tahun, hingga 50 sampai 100 tahun ke depan,” ujar Mawardi pada Rabu (28/1/2026).
Hasil kajian ini diharapkan menjadi rujukan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam perencanaan pembangunan yang peka risiko banjir.
Rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya bersifat struktural seperti drainase, pintu air, atau pompa, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik unik Sungai Mahakam yang mungkin tidak selalu cocok dengan pendekatan teknis konvensional.
“Atau malah memang tidak cocok seperti itu, bisa jadi karena sungainya yang sangat besar, muaranya agak lebih jauh, jadi pintu airnya tidak cocok,” terangnya.
Salah satu poin penting dalam kajian ini adalah pemanfaatan ruang publik, seperti lahan kosong, taman, dan lapangan olahraga, untuk difungsikan sebagai kolam retensi sementara melalui rekayasa teknik.
“Harus ada sesuatu yang dibuat di bawahnya sehingga mempercepat penyerapan air. Tapi waktu tidak ada hujan, dia lebih kering, lebih cepat,” paparnya.
Selain itu, integrasi solusi berbasis alam seperti penanaman pohon di daerah tangkapan hujan turut dikaji untuk menjaga stabilitas tanah, terutama pada lahan gambut yang rentan menyusut jika terlalu kering. “Kalau sudah menyusut, fungsi dia untuk penyerapan air tidak ada lagi,” kata Mawardi.
Kajian ini ditargetkan rampung dalam sembilan hingga sepuluh bulan, yang nantinya akan dilanjutkan dengan analisis kerugian ekonomi akibat banjir.
Dalam proses pengumpulan data, tim bekerja sama dengan Universitas Mulawarman (Unmul) serta melibatkan masyarakat melalui wawancara riwayat banjir.
Secara keseluruhan, program FINCAPES dirancang berjalan selama lima tahun hingga 2028. Selain mendukung perencanaan jangka panjang, hasil kajian ini juga membuka peluang pengembangan sistem peringatan dini banjir.
“Rekomendasi dan hasil dari temuan ini akan kita serahkan kepada pemkot guna diimplementasikan ke depan sehingga perencanaan itu lebih aware tentang kasus banjir ini,” pungkasnya.
Editor: Erwin