Ia menegaskan, kejadian tersebut tidak dapat lagi dianggap sebagai insiden biasa, mengingat jembatan tersebut memiliki peran vital bagi aktivitas masyarakat.
Ananda mengungkapkan, Jembatan Mahulu tercatat telah mengalami tabrakan kapal sebanyak tiga kali. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius seluruh pihak terkait karena menyangkut keselamatan pengguna jembatan yang setiap hari melintas.
“Jembatan Mahulu itu sudah tiga kali ditabrak. Saya sebagai unsur pimpinan DPRD tidak berbicara soal potensi peningkatan pendapatan daerah dari aktivitas alur sungai. Fokus saya adalah faktor keamanan,” ujar Ananda, Selasa (27/1/2026).
Lanjutnya, Jembatan Mahulu merupakan salah satu infrastruktur strategis di Kaltim yang berfungsi sebagai penghubung utama mobilitas masyarakat.
Setiap harinya, jembatan tersebut digunakan warga untuk berbagai kepentingan, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga menjalankan aktivitas perekonomian.
Dengan tingginya intensitas penggunaan, Ananda menilai bahwa setiap insiden yang melibatkan jembatan berpotensi menimbulkan dampak besar bagi kehidupan masyarakat.
Ia mengingatkan agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.
“Jembatan ini dilalui oleh banyak warga setiap hari. Ke kantor, ke sekolah, dan untuk kebutuhan ekonomi. Jangan sampai ke depan masih terjadi tabrakan-tabrakan. Kalau sampai terjadi hal yang lebih serius, masyarakat Kaltim yang akan paling dirugikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ananda menilai berulangnya insiden jembatan ditabrak tongkang menjadi indikasi perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan lalu lintas kapal di Sungai Mahakam.
Ia meminta pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal serta profesional.
“Pihak yang memegang tanggung jawab harus bekerja lebih serius dan tidak hanya sebatas administrasi. Ke depan, kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi,” pungkasnya.
Editor: Erwin