Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menjalin komunikasi dengan Plenary Group asal Australia yang berkolaborasi dengan Aspen Medical Group Indonesia. Namun, penawaran investor tersebut dinilai belum memenuhi kriteria pemerintah pusat.
Kepala Bagian (Kabag) Administrasi Pembangunan (Adbang) Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Suryo Priyo Raharjo mengungkapkan penawaran teknis Aspen Medical belum sesuai persyaratan yang diminta oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
“Sampai akhir 2025 kita sudah masuk tahap transaksi terhadap penyedia yang lulus pra kualifikasi, tapi penawaran teknisnya belum memenuhi syarat,” ujar Suryo, Selasa (13/1/2026).
Penilaian tersebut mencakup aspek teknis, administrasi, hingga keuangan. Atas dasar itu, Kemenkeu pun meminta adanya perubahan ruang lingkup proyek.
“Tujuan perubahan ruang lingkup untuk mendapatkan investor yang memenuhi kriteria teknis, administrasi, dan keuangan,” jelasnya.
Diakuinya, salah satu kendala utama adalah tingginya risiko kurs mata uang yang berdampak langsung pada nilai penawaran.
“Risiko kursnya tinggi, termasuk penjaminan dan risiko yang ditanggung investor, sehingga penawarannya dinilai masih terlalu tinggi secara teknis keuangan,” tambahnya.
Guna memastikan proyek tetap berlanjut, Pemkot Samarinda kini menyusun ulang ruang lingkup dan output pengembangan rumah sakit agar kembali diminati investor yang sesuai kriteria.
“Kita usahakan bulan depan melakukan market sounding (penjajakan minat pasar) lagi ke calon investor potensial,” ucap Suryo lagi.
Saat ini, tercatat 19 investor potensial yang masuk radar pantauan. Namun, daftar tersebut masih disortir Kemenkeu sebelum masuk pembahasan lanjutan pada Februari mendatang.
“Mereka masih dihubungi sampai ke pimpinan untuk memperoleh keyakinan sebelum ditemui,” pungkasnya.
Editor: Erwin