Pengoperasian Insinerator Masuki Tahap Pelatihan Teknis
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Program pengelolaan sampah berbasis teknologi di Kota Samarinda memasuki tahap penting.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mulai menggelar pelatihan teknis pengoperasian mesin insinerator sebagai persiapan operasional di sejumlah titik kota.
Pelatihan dilaksanakan di Kantor Kecamatan Samarinda Ulu, Jalan Juanda Jumat (9/1/2026) hari ini melibatkan calon operator yang nantinya bertugas langsung di lapangan. Kegiatan ini difokuskan pada pengenalan sistem kerja mesin, prosedur operasional, serta aspek keselamatan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Samarinda Suwarso mengatakan, pelatihan menjadi bagian krusial sebelum insinerator benar benar dioperasikan. Selain menyiapkan sumber daya manusia (SDM), pelatihan juga mencakup pemahaman bahan pemicu pembakaran dan tahapan teknis lainnya.
“Materi disampaikan langsung oleh vendor. Setelah pelatihan ini, kami minta ada pendampingan lanjutan karena pengoperasian insinerator harus dilakukan secara khusus,” ujar Suwarso.
Hingga saat ini ada 24 peserta yang mengikuti pelatihan dari target sekitar 72 orang. DLH juga akan kembali membuka rekrutmen tahap berikutnya untuk memenuhi kebutuhan operator, mengingat pekerjaan ini membutuhkan pengetahuan teknis dan kesiapan fisik.
Terkait kesiapan lokasi, sejumlah titik masih berproses. Di beberapa kelurahan, kendala yang dihadapi bersifat nonteknis seperti pembebasan lahan, meski secara umum kondisi lahan dinilai aman.
“Saat ini progres di beberapa lokasi berada di kisaran 60 hingga 70 persen. Ada yang terkendala infrastruktur tambahan seperti perbaikan jalan, ketersediaan air, dan listrik,” sebut Suwarso.
Dari seluruh titik yang direncanakan, lokasi di kawasan Polder Air Hitam disebut sebagai yang paling siap untuk operasional awal. Sementara titik lainnya akan menyusul setelah penyesuaian teknis dan administratif rampung.
DLH Samarinda juga telah mengajukan anggaran tambahan untuk penggajian operator insinerator. Skema swakelola dipilih agar proses pencairan lebih cepat dan fleksibel. “Kami ajukan untuk sekitar 70 tenaga kerja,” imbuh Suwarso.
Nantinya pelatihan tahap kedua akan kembali dibuka, meski diakui ada sejumlah tantangan seperti jarak tempat tinggal calon operator dan risiko pekerjaan di lapangan.
DLH memastikan seluruh proses akan terus dievaluasi agar operasional insinerator berjalan optimal dan aman.
Editor: Aspian Nur










