Ketergantungan yang terlalu besar pada sektor pertambangan dan migas dinilai berisiko bagi keberlanjutan ekonomi Kaltim di masa depan.
Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Firnadi Ikhsan mengingatkan bahwa Kaltim harus mulai menyiapkan fondasi ekonomi baru sejak sekarang. Langkah itu diambil agar tidak mengalami guncangan ketika industri ekstraktif mengalami penurunan.
Menurutnya, perubahan arah pembangunan ekonomi tidak bisa ditunda di tengah dinamika global yang semakin cepat.
“Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan sektor ekstraktif. Dunia sedang bergerak menuju energi hijau. Jika Kaltim tidak segera beradaptasi, kita akan tertinggal,” ujar Firnadi pada Rabu (31/12/2025).
Ia menyoroti besarnya potensi ekonomi lokal yang dimiliki Kaltim, khususnya di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan.
Namun, potensi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal, padahal sektor-sektor ini relatif lebih stabil terhadap gejolak ekonomi global dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Firnadi menyebutkan sejumlah komoditas unggulan seperti kelapa, kelapa sawit, ikan air tawar, hingga sapi lokal yang memiliki peluang pasar cukup besar.
Kendati demikian, kelemahan utama masih terletak pada minimnya hilirisasi, sehingga produk-produk tersebut sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
“Nilai tambahnya belum kita nikmati di daerah. Semua masih dijual apa adanya, tanpa pengolahan lanjutan,” jelasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Firnadi menilai diperlukan dukungan serius dari pemerintah dalam membangun industri pengolahan yang terintegrasi dengan potensi lokal.
Politisi PKS itu menekankan pembangunan ekonomi tidak harus selalu bergantung pada investasi skala besar. Tetapi juga perlu melibatkan pelaku usaha mikro dan kecil melalui dukungan teknologi, permodalan, serta akses pasar.
Ia mengaku, transformasi ekonomi bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana namun berdampak luas, seperti pengolahan kelapa menjadi santan kemasan, ikan menjadi produk beku, atau pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi alternatif.
“Yang terpenting adalah menciptakan nilai tambah di daerah dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal,” tegasnya lagi.
Lebih jauh, Firnadi menilai transformasi ekonomi ini tidak sekadar bertujuan melakukan diversifikasi sektor, tetapi juga untuk membangun ketahanan ekonomi jangka panjang di tengah masa transisi energi.
Ketika dunia mulai mengurangi penggunaan batubara dan minyak, Kaltim harus sudah memiliki sektor-sektor baru yang mampu menopang kesejahteraan masyarakat.
“Jangan sampai Kaltim hanya menjadi penonton saat ekonomi global bergeser ke arah hijau dan berkelanjutan. Kita punya semua modal untuk menjadi produsen pangan, energi alternatif, dan produk lokal yang berdaya saing,” ungkapnya.
Dia juga memastikan DPRD Kaltim siap memberikan dukungan kebijakan maupun anggaran yang berpihak pada pengembangan ekonomi non-tambang.
Firnadi berharap pemerintah daerah segera menyusun peta jalan (roadmap) yang jelas, konkret, dan terukur dalam membangun ekonomi berbasis potensi lokal.
“Kita harus mulai dari sekarang. Ke depan, ekonomi Kaltim harus lebih produktif, inovatif, dan tidak lagi bergantung pada apa yang digali dari dalam tanah,” pungkasnya.
Editor: Erwin