Sejumlah ketua RT menyebut, genangan yang sebelumnya sudah terkendali kini kembali memburuk, baik dari sisi ketinggian maupun durasi banjir.
Ketua RT 30 Pondok Surya Indah, Anang Rifani mengatakan wilayahnya semula relatif aman dari luapan air. Namun sejak pengurukan dilakukan, kondisi berubah signifikan. Saat hujan lebat, air nyaris mencapai badan jalan dan mengganggu akses warga.
“Dulu air tidak melimpah. Sekarang saat hujan deras, Rapak Binuang tenggelam dan air sudah mendekati jalan. Akses ke SKM (Sungai Karang Mumus) ikut terdampak,” ujarnya, Rabu (17/12/2025).
Hal senada disampaikan Ketua RT 27 Rapak Binuang Indah, Kamaludin. Ia mengakui wilayahnya memang rawan banjir, tetapi kondisi saat ini jauh lebih parah dibanding sebelumnya. Jika dulu genangan sebatas lutut, kini air mencapai pinggang dan masuk ke rumah warga.
“Banyak perabot rusak dan terpaksa dibuang. Ini bukan sekadar kekhawatiran, tapi dampak nyata karena resapan air sudah hilang. Padahal hampir dua tahun kami tidak banjir lagi," katanya.
Kamaludin menjelaskan, aliran air dari kawasan Batu Besaung, Batu Cermin, Wahid Hasyim, AW Sjahranie, hingga Perjuangan bermuara di Rapak Binuang sebelum mengalir ke Sungai Karang Mumus. Dengan kondisi wilayah berupa cekungan, sungai dinilai tidak lagi mampu menampung debit air.
Ia pun mendorong pemerintah mengkaji pembangunan sodetan, salah satunya di Bengkuring, untuk membagi aliran air agar tidak seluruhnya masuk ke Rapak Binuang. Warga juga meminta aktivitas pengurukan dihentikan sementara.
“Ini perlu dihentikan dulu. Kami minta pemerintah meninjau kemungkinan sodetan agar limpasan air tidak semuanya ke sini,” tegasnya.
Warga mencatat durasi banjir kini semakin lama. Genangan dapat bertahan 14 hingga 18 jam, bahkan satu hingga dua hari saat bersamaan dengan pasang air laut. Endapan lumpur di dalam rumah juga semakin tebal.
Ketua RT 28 Rapak Binuang, Kuswanto juga menyebut banjir setinggi pinggang terjadi dua kali dalam sebulan terakhir. Padahal sebelumnya, ketinggian air hanya sebatas lutut.
Para ketua RT berharap pemerintah segera mengevaluasi aktivitas pengurukan lahan dan memastikan keselamatan serta kenyamanan warga tidak dikorbankan oleh dampak lingkungan. “Sekarang banjir lebih dalam dan frekuensinya meningkat,” tandasnya.
Editor: Erwin