Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan, jumlah angkatan kerja tahun ini mencapai 2,07 juta orang, turun 6.056 orang dibanding tahun sebelumnya. Penurunan itu diikuti oleh menurunnya penduduk bekerja sebanyak 6.708 orang menjadi 1,96 juta orang.
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana menjelaskan, kenaikan TPT sebesar 0,04 persen poin itu mencerminkan masih adanya ketimpangan antara pertumbuhan lapangan kerja dan jumlah pencari kerja baru.
“Kaltim memang sedang mengalami pergeseran struktur ekonomi. Sektor jasa tumbuh pesat, tapi penyerapan tenaga kerjanya tidak selalu sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk usia kerja,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (6/11/2025).
Sementara, sektor perdagangan besar dan eceran masih mendominasi lapangan kerja dengan kontribusi 19,05 persen, disusul sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 17,92 persen, serta pertambangan dan penggalian 8,59 persen.
Namun, lapangan kerja di bidang aktivitas kesehatan manusia dan sosial justru mencatat kenaikan penyerapan terbesar, naik 0,44 persen poin dibanding tahun lalu. Sementara sektor perdagangan mengalami penurunan 0,38 persen poin.
BPS juga mencatat peningkatan signifikan tenaga kerja berpendidikan tinggi. Proporsi pekerja tamatan universitas dan diploma naik dari 16,65 persen menjadi 18,70 persen, menandai peningkatan kualitas SDM di pasar kerja Kaltim.
Di sisi lain, tenaga kerja formal justru menurun menjadi 56,78 persen, atau turun 0,90 persen poin dari tahun sebelumnya. Sementara pekerja informal naik menjadi 43,22 persen.
Kondisi ini beriringan dengan naiknya jumlah setengah pengangguran, mereka yang bekerja di bawah 35 jam per minggu namun masih ingin menambah pekerjaan menjadi 5,66 persen, meningkat 1,05 persen poin dari 2024.
“Fenomena ini menunjukkan adanya penyesuaian di dunia kerja. Banyak pekerja memilih pekerjaan paruh waktu atau informal karena fleksibilitas, tapi risikonya pada kestabilan pendapatan,” tulis dalam laporan BPS.
Secara spasial, Penajam Paser Utara (PPU) mencatat lonjakan TPT paling tinggi, naik dari 2,05 persen menjadi 4,26 persen, atau meningkat 2,21 persen poin.
Sebaliknya, Berau dan Bontang mengalami penurunan pengangguran cukup signifikan masing-masing 0,75 dan 0,70 persen poin.
Kota Samarinda, sebagai ibu kota provinsi mencatat TPT 5,31 persen, turun dari 5,75 persen tahun sebelumnya, namun diiringi penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 1,95 persen poin.
Menariknya, pengangguran masih banyak datang dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dengan TPT mencapai 7,72 persen tertinggi di antara semua jenjang pendidikan. Sebaliknya, TPT terendah ada di kelompok SD ke bawah sebesar 2,48 persen.
Editor: Erwin