Dari yang semula baru sebatas rencana, kini sudah berdiri sekitar 20 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif beroperasi di sejumlah titik kota.
Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN), Nyoto Suwignyo menilai perkembangan itu mencerminkan keseriusan pemerintah daerah menggerakkan sistem pemenuhan gizi pelajar secara terukur.
“April lalu saya ke sini masih sepi, sekarang sudah ada 20 dapur yang jalan semua,” ujar Nyoto usai meninjau Dapur SPPG Bugis, Kamis (6/11/2025).
BGN sendiri menargetkan pembangunan 73 dapur di Samarinda dapat tuntas pada 2025, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas akses pangan bergizi bagi pelajar.
Selain itu, lembaga ini juga menyiapkan sistem digital berupa aplikasi untuk memantau stok bahan pokok di pasar antar daerah secara real time, sehingga kebutuhan dapur dapat segera diantisipasi ketika terjadi kekosongan pasokan.
“Semua harus kolaborasi, baik kabupaten, kota, provinsi maupun pusat. Sistem ini akan mempermudah koordinasi kalau ada daerah yang kekurangan stok,” jelasnya.
Nyoto menilai pengelolaan Dapur SPPG Bugis di Go Mall dapat menjadi contoh bagi daerah lain karena berhasil memanfaatkan aset Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang sebelumnya belum optimal untuk kegiatan produktif.
“Seharusnya bisa jadi contoh bahwa pemerintah daerah Samarinda bisa memanfaatkan aset BUMD dengan baik,” terangnya.
Ia juga mengapresiasi kinerja Yayasan Fimizoe yang mengelola dapur tersebut dengan tenaga katering berpengalaman serta menerapkan standar kebersihan dan kesehatan yang ketat.
Selain melayani kebutuhan siswa, pengelola juga memberi pelatihan serta pendampingan sertifikasi bagi dapur lain agar seluruh SPPG memiliki penjamah makanan bersertifikat sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan.
“Mereka juga memberi pelatihan dan sertifikasi, ini penting agar semua dapur punya standar yang sama,” tutupnya.
Editor: Erwin