Ratusan personel kepolisian tampak bersiaga di lapangan, menghadapi massa yang berteriak lantang sambil mengibarkan spanduk dan bendera. Teriakan semakin memanas, beberapa peserta aksi mulai mendorong barikade petugas, hingga terdengar letupan gas air mata yang membuat kerumunan kocar-kacir. Situasi sempat menegangkan, sebelum akhirnya kondisi berhasil dikendalikan oleh tim negosiator dan pasukan pengendali massa.
Namun, kejadian tersebut bukanlah peristiwa nyata. Semua yang terlihat pagi itu hanyalah simulasi sistem keamanan kota yang digelar oleh Kepolisian Daerah Kalimantan Timur (Polda Kaltim). Kegiatan ini merupakan latihan rutin untuk menguji kesiapsiagaan aparat keamanan dalam menghadapi berbagai potensi gangguan kamtibmas, terutama aksi unjuk rasa di wilayah hukum Kota Samarinda.
Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro menjelaskan, simulasi ini digelar agar setiap personel memiliki kesiapan dan kemampuan menghadapi situasi apa pun di lapangan.
“Hari ini kami melakukan pelatihan simulasi sistem keamanan kota. Tidak lain kita sebagai aparat negara tentunya diharuskan memiliki kesiapsiagaan dalam kondisi apapun, termasuk kegiatan yang tadi kita lakukan,” kata Endar kepada Korankaltim.com.
Latihan ini tidak hanya mengasah kemampuan teknis dan taktis aparat, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat koordinasi antarinstansi.
“Kegiatan ini untuk menjaga sinergi dengan TNI, Satpol PP, dan unsur masyarakat, agar setiap tindakan pengamanan tetap sesuai prosedur dan menghormati hak asasi manusia,” tambahnya.
Dalam simulasi tersebut, aparat memperagakan penanganan aksi mulai dari tahap damai, negosiasi, hingga situasi eskalasi yang melibatkan pasukan Dalmas dan Brimob. Bahkan, satuan Detasemen 45 Anti Anarki, turut dikerahkan dalam tahap akhir latihan.
“Kami ingin masyarakat tahu, latihan ini dilakukan untuk menjamin hak-hak warga tetap terlindungi dan keamanan tetap terjaga,” pungkas Endar.
Editor: Aspian Nur