Hal ini diungkapkan Wakil Direktur Medik dan Keperawatan RSUD AWS, dr. Nurliana Adriati Noor. Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor teknis dan operasional di lapangan. Oleh karenanya, ia meminta maaf jika terdapat pasien yang harus menunggu lama di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Perputaran tempat tidur pasien dalam satu bulan, baik dari rawat jalan maupun poliklinik IGD, mencapai sekitar 3.000 hingga 3.500 pasien,” ujar Nurliana, Senin (20/10/2025).
Lanjutnya, kapasitas ruang perawatan sering kali tidak seimbang dengan jumlah pasien yang datang. Beberapa pasien juga memerlukan waktu observasi sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap agar kondisinya benar-benar stabil.
“Pasien di IGD perlu dipastikan stabil terlebih dahulu sebelum diantarkan ke ruang rawat inap,” terangnya.
Ia menambahkan, IGD berfungsi menangani pasien dengan tingkat kegawatan tinggi, sehingga penanganan dilakukan berdasarkan prioritas medis.
Pasien dengan kondisi darurat seperti kecelakaan atau stroke harus segera ditangani tanpa menunggu ketersediaan ruang perawatan.
“Persiapan tindakan sering dilakukan di IGD, jadi wajar jika terlihat pasien menumpuk dan lama tidak dipindahkan. Sebagian dari mereka masih distabilkan atau menunggu jadwal tindakan operasi,” jelasnya.
Nurliana juga menerangkan kamar operasi untuk kasus darurat berada di lantai tiga gedung IGD. Oleh karena itu, pasien yang sudah stabil baru akan dipindahkan agar tidak mengganggu kondisi kesehatan mereka. “Pemindahan berulang bisa memengaruhi stabilitas pasien,” ujarnya.
Selain itu, kendala lain adalah ketidaksesuaian antara jenis ruang yang tersedia dengan kebutuhan pasien. Misalnya, ruang kosong merupakan ruang infeksi, sementara pasien bukan kategori infeksi.
“Dalam kondisi demikian, kita dari rumah sakit tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik sambil menunggu ruang yang sesuai tersedia,” pungkasnya.
Editor: Erwin