Ketua Umum LPADKT, Vendy Meru, menyatakan pihaknya siap melakukan aksi besar jika kebijakan itu tetap dijalankan. Bahkan, mereka mengancam akan menutup jalur distribusi sumber daya alam melalui Sungai Mahakam, sebagai bentuk protes keras terhadap kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat Kaltim.
“Penutupan Sungai Mahakam bukan sekadar ancaman, tapi bentuk keterpaksaan bila pemerintah pusat tidak mendengarkan aspirasi rakyat Kaltim,” ujar Vendy, Kamis (16/10/2025).
Menurutnya, Kaltim selama ini telah memberikan sumbangsih besar bagi perekonomian nasional. Karena itu, pemangkasan DBH dinilai tidak adil dan mencederai prinsip pemerataan pembangunan.
“Kami sudah memberikan tenggat waktu 14 hari kepada pemerintah pusat untuk membatalkan rencana pemotongan DBH tersebut, jika tidak siap-siap sungai Mahakam akan terpaksa kami tutup,” ucapnya.
Vendy menambahkan, secara konstitusional, DBH adalah hak rakyat daerah. Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat Kaltim tanpa memandang suku, agama, dan golongan untuk bersatu memperjuangkan keadilan fiskal.
“Aksi ini murni gerakan masyarakat, tidak ada muatan politik. Kami hanya menuntut keadilan agar daerah kami mendapat bagian yang layak,” katanya.
Ia mengingatkan, sebagai salah satu penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar di Indonesia dengan nilai mencapai Rp858 triliun pada tahun 2024. Oleh sebab itu Kaltim selayaknya mendapat perhatian lebih dari pusat.
“Hanya itu yang kami minta, keadilan anggaran yang seimbang. Dana tersebut sangat penting untuk pembangunan daerah,” jelasnya.
Vendy juga menegaskan agar pemerintah pusat tidak memandang sebelah mata kontribusi Kaltim. Jika aspirasi ini tidak diindahkan, ia memperingatkan akan ada gerakan masyarakat yang lebih ekstrem.
“Ini bukan ancaman, tapi perjuangan hak. Jangan sampai kita seperti tikus mati di lumbung padi,” tegasnya.
Dirinya berharap, jeritan masyarakat Kaltim ini bisa didengar langsung oleh Kementerian Keuangan dan Presiden RI, agar kebijakan pemangkasan DBH tersebut dibatalkan demi keadilan bagi daerah penghasil sumber daya alam.
Editor: Erwin