Dari hasil skrining di Kota Tepian, Dinas Kesehatan (Dinkes) pada 2025 ini menemukan empat hingga lima kasus.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih menegaskan perlunya edukasi berkelanjutan agar masyarakat memahami pentingnya pencegahan sejak dini.
“Sekolah, orang tua, hingga kelompok masyarakat seperti TP PKK (Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) memiliki peran penting dalam mencegah penyakit ini,” kata Ismed, Selasa (30/9/2025).
Salah satu cara pencegahan yang dinilai paling efektif adalah imunisasi HPV. Program ini sudah masuk dalam imunisasi nasional sejak 2023.
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Prima Yosephine menjelaskan imunisasi merupakan langkah medis paling tepat untuk menekan risiko kanker leher rahim.
Namun, ia mengakui masih banyak kesalahpahaman di masyarakat yang membuat vaksinasi belum berjalan optimal.
“Edukasi yang tepat kepada seluruh lapisan masyarakat perlu terus digaungkan, agar kita dapat melindungi generasi mendatang dan mewujudkan masa depan bebas kanker leher rahim,” ujarnya.
Upaya edukasi juga digerakkan lewat kampanye Tenang untuk Menang yang sejak 2024 hadir di berbagai daerah, termasuk Samarinda. Program ini merupakan komitmen berkelanjutan MSD Indonesia dengan dukungan Kemenkes RI.
Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou menyebut gerakan ini memang bertujuan memperluas kesadaran masyarakat tentang bahaya kanker leher rahim.
Sehingga dengan edukasi dan langkah pencegahan yang tepat, pihaknya ingin setiap anak perempuan di Indonesia dapat dilindungi.
“Setiap anak perempuan berhak mendapat perlindungan kesehatan,” katanya.
Ketua TP PKK Samarinda, Rinda Wahyuni Andi Harun menekankan peran ibu sebagai garda terdepan kesehatan keluarga. Menurutnya, ibu-ibu bisa menjadi penggerak utama agar anak-anak perempuan terlindungi sejak dini.
Dengan jumlah anak perempuan usia 10–19 tahun di Kaltim yang mencapai lebih dari 300 ribu jiwa, tantangan pencegahan kanker leher rahim disebut tidak bisa ditunda lagi.
“Tanpa langkah bersama, generasi perempuan akan tetap berada dalam risiko besar,” tutupnya.
Editor: Erwin