Kasus ini mencuat setelah aparat gabungan TNI-Polri menggerebek lokasi yang diduga digunakan sebagai tempat perakitan bom molotov dan dalam operasi tersebut, sebanyak 22 mahasiswa akhirnya diamankan.
Wakil Rektor III Unmul, Prof. Bazhar, memastikan pihak kampus memberikan pendampingan penuh terhadap mahasiswa yang diamankan.
“Kami terus berkoordinasi dengan penyidik. Hak-hak mahasiswa tetap kami lindungi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan Unmul akan melakukan pembinaan khusus terhadap mahasiswa yang terlibat. Kasus ini menjadi evaluasi kampus untuk memperkuat komunikasi antara fakultas, wakil dekan, dan pihak terkait agar kejadian serupa tidak terulang.
Sementara itu, Perwakilan LBH Samarinda, Muhammad Irfan Ghazi, menyebut 18 mahasiswa telah dipulangkan karena tidak terlibat.
“Mereka hanya berada di lokasi saat penggerebekan berlangsung. Status mereka saksi,” jelasnya.
Empat mahasiswa lainnya berinisial MZ, MH, MAG, dan AF masih menjalani pemeriksaan intensif. Meski ada pengakuan keterlibatan, status mereka masih saksi dan belum ditetapkan sebagai tersangka. LBH berharap penyidik bekerja transparan dan menjunjung keadilan.
Kasat Reskrim Polresta Samarinda, AKP Agus Setyawan, menegaskan pihaknya masih mendalami peran keempat mahasiswa tersebut dan menelusuri kemungkinan adanya pihak eksternal yang memanfaatkan mereka.
“18 orang sudah kami pulangkan, dan sejumlah barang bukti berupa botol kaca, bahan bakar, dan kain sumbu telah diamankan,” terangnya.
Diketahui, penggerebekan dilakukan menjelang aksi unjuk rasa Aliansi Mahakam di depan Kantor DPRD Kaltim. Polisi menduga bom molotov tersebut akan digunakan saat demonstrasi, namun dugaan ini masih diselidiki lebih lanjut.
Hingga kini, penyidik Polresta Samarinda masih memeriksa keempat mahasiswa tersebut, sementara kampus dan LBH Samarinda terus memantau perkembangan kasus agar hak-hak mahasiswa tetap terjamin.
Editor: Erwin