Kepala Bidang Riset Daerah Bapperida Samarinda, Syamsu Nur menjelaskan pelaksanaan kajian ini masih tahap pra feasibility study (FS) atau studi kelayakan.
Hasil sementara belum final dan baru akan dibahas lagi dalam seminar lanjutan pada November mendatang.
Dari sembilan lokasi, beberapa di antaranya Kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), serta Balai Kota.
Selain itu, Sekolah Terpadu di Kelurahan Loa Bakung, serta fasilitas umum seperti Teras Samarinda, Taman Bebaya, dan Taman Cerdas. SMP 50 Samarinda sempat masuk daftar, namun atapnya dinilai tidak memungkinkan karena terlalu miring. Lokasinya kemudian digantikan gedung Balai Kota yang kini dalam tahap renovasi.
“Selama ini belum ada PLTS di aset Pemkot. Kita ingin mulai beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang sudah tercemar polusi. Salah satu caranya dengan energi surya,” ujarnya.
Menurut Syamsu, prospek PLTS cukup baik karena bisa menekan biaya listrik. Investasi diperkirakan tidak sampai Rp1 miliar per gedung.
Meski begitu, tahap awal masih berupa uji coba (piloting). Rencana pertama akan dipasang di Kantor Bapperida tahun depan, sedangkan penerapan menyeluruh diproyeksikan baru bisa berjalan pada 2026–2027.
Ia menambahkan, sistem yang akan diterapkan sementara masih on grid atau terhubung dengan jaringan PLN. “Kami juga meminta masukan dari PLN agar tidak merugikan mereka,” tandasnya.
Editor: Erwin