“Ini bukan sekadar soal jumlah penduduk. Ini tentang masa depan bangsa. Kalau salah kelola, kita bisa masuk jurang ketimpangan, lansia miskin, hingga ledakan pengangguran muda,” tegas Sekretaris Utama Kemendukbangga, Prof. Budi Setiyono, Kamis (7/8/2025) sore tadi.
Pihaknya mendorong agar Kemendukbangga mengubah fokus dari keluarga berencana menjadi masyarakat berencana. Hal ini dilakukan karena dinilai dapat menekan laju pertumbuhan penduduk Indonesia.
“Sekarang tugas kita mengarahkan, mau dibawa ke mana penduduk usia produktif kita yang jumlahnya sangat besar itu?” ujar Budi.
Tantangannya nyata, kata dia, pasalnya sebanyak 59 persen penduduk usia kerja masih terjebak di sektor informal. Hanya 5 persen lansia memiliki jaminan hari tua. Dan jutaan anak muda terancam menjadi sandwich generation terjepit antara tanggung jawab terhadap orang tua dan anaknya sendiri.
Maka dari itu, Kemendukbangga ingin menjahit ulang arah pembangunan manusia Indonesia melalui Konsep Peta Jalan Pembangunan Kependudukan yang sudah bukan lagi program sektoral dan jalan sendiri-sendiri, tapi integrasi berbasis keluarga sebagai simpul utama.
Sehingga pihaknya mempersiapkan empat pilar kebijakan seperti kebijakan berbasis data mikro keluarga, sinergi lintas kementerian dan daerah, kemitraan multipihak (pentahelix), serta inovasi digital seperti SuperApps Keluarga dan layanan posyandu berbasis teknologi.
“Anak bukan jaminan hari tua. Negara harus hadir. Kalau tidak, generasi muda akan kelelahan menopang dua beban sekaligus,” tegasnya.
Peta jalan kependudukan 2025-2029 bukan sekadar dokumen teknis, tapi alarm kebijakan. Indonesia hanya punya waktu satu dekade sebelum jendela bonus demografi tertutup.
Terlebih, jika prasyaratnya gagal dipenuhi hari ini, pekerja formal sedikit, partisipasi perempuan stagnan, sistem jaminan sosial lemah, maka impian menjadi negara maju pada 2045 hanya tinggal wacana.
“Indonesia tidak kekurangan program. Tapi terlalu banyak yang berjalan sendiri-sendiri. Di sinilah peran Kemendukbangga untuk menjahit yang tercecer, menyatukan yang terpencar,” tutupnya.
Editor: Erwin