Pendekatan lama yang bergantung pada kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) mulai ditinggalkan, digantikan dengan strategi baru yang menitikberatkan pada pencegahan berbasis teknologi.
Sebagai realisasi, Pemkot akan membangun 10 unit insinerator yang tersebar di tiap kecamatan. Proyek prioritas ini mendapat alokasi anggaran sebesar Rp16 miliar.
Langkah ini bertujuan mengurangi beban TPA Sambutan yang kian mendekati kapasitas maksimum, menyusul peningkatan volume sampah harian yang telah mencapai 604 ton pada tahun 2025.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Samarinda, Ibrohim, memastikan bahwa seluruh kebutuhan awal proyek, termasuk pembiayaan dan lahan, telah disiapkan.
“Dana sudah kami sediakan. Setiap kecamatan akan mendapat satu unit insinerator, tinggal pelaksanaan teknisnya saja yang kita tunggu,” ujar Ibrohin, Jumat (11/4/2025).
Menurutnya, penggunaan insinerator bukan keputusan tergesa-gesa. Wali Kota, Andi Harun secara langsung memimpin diskusi dan studi banding ke berbagai daerah sebelum mengambil keputusan ini.
Hasilnya, dipilihlah metode insinerasi atau salah satu metode pembakaran sampah atau limbah secara termal pada suhu 850 sampai 1.400 derajat celcius yang dinilai efisien dan ramah lingkungan.
Menariknya, lokasi insinerator akan memanfaatkan lahan kecil di tiap kecamatan, sementara untuk skala besar seperti produksi paving block dari sisa abu pembakaran akan dipusatkan di TPA Sambutan.
“Luas lahan tidak sampai seribu meter persegi per lokasi, kecuali untuk lokasi yang terintegrasi dengan unit produksi paving block,” jelas Ibrohim.
Rencana awal Pemkot hanya menganggarkan sekitar Rp1 miliar per unit. Namun setelah kajian teknis, anggaran ditingkatkan menjadi rata-rata Rp1,6 miliar per insinerator untuk memenuhi standar dan efektivitas kerja.
Tugas antar instansi pun dibagi jelas, pembangunan fisik insinerator dikoordinasikan oleh Dinas PUPR melalui bidang Cipta Karya, sedangkan operasional harian serta pengelolaannya akan dijalankan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Dengan proyek ini, dia berharap bisa menekan volume sampah secara signifikan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomis.
Editor: Erwin