Menurutnya, masjid, gereja, dan rumah ibadah lainnya memiliki potensi besar dalam memberdayakan masyarakat dan mempercepat pengurangan angka kemiskinan.
Berdasarkan data, angka kemiskinan di Samarinda mengalami penurunan dari 4,81 persen pada 2023 menjadi 4,3 persen pada 2024. Tingkat pengangguran juga turun dari 5,92 persen menjadi 5,75 persen.
Meskipun menunjukkan tren positif, Andi Harun menilai bahwa upaya penanggulangan kemiskinan harus terus ditingkatkan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan pengurus tempat ibadah.
“Tempat ibadah bisa menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat sekitar. Jika di sebuah masjid terdapat 20 warga miskin, pengurus masjid bisa langsung memberikan bantuan tanpa menunggu program pemerintah,” ujarnya saat Rapat Paripurna Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) 2024 di Kantor DPRD Samarinda belum lama ini.
Dia juga menyoroti program bedah rumah yang selama ini dijalankan pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta melalui CSR. Menurutnya, peran tempat ibadah sangat penting untuk menjangkau lebih banyak warga yang belum mendapatkan bantuan.
“Kalau ada tempat ibadah yang punya kemampuan membiayai bedah rumah, tentu sangat membantu. Tidak harus cepat, yang penting berkelanjutan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, pria yang akrab disapa AH itu juga mengingatkan agar dana infaq yang terkumpul di masjid tidak hanya disimpan, tetapi digunakan untuk kegiatan sosial dan pemberdayaan umat.
AH juga mencontohkan sebuah masjid yang berhasil mengumpulkan infaq hingga Rp400 juta dalam dua tahun. Menurutnya, sebagian dari dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
Ia juga menyoroti potensi zakat di Samarinda yang mencapai Rp180 miliar. Jika potensi ini dikelola secara optimal, dampaknya akan sangat besar dalam upaya pengentasan kemiskinan.
“Bayangkan jika seluruh tempat ibadah di Samarinda berkontribusi aktif. Dampaknya akan luar biasa. Tempat ibadah bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat solusi sosial,” pungkasnya.
Editor: Erwin