"Kawasan pesisir yang diperkirakan mengalami pasang air laut tersebut seperti perairan di Kota Balikpapan dan sekitarnya, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Kabupaten Berau," ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan Diyan Novrida melansir dari Antaranewskaltim.com Selasa (25/3/2025) hari ini.
Pada tanggal 21 sampai 31 Maret diprakirakan perairan Balikpapan mengalami pasang tertinggi 2,8 meter pada 30 dan 31 Maret 2025 pukul 24.00 WITA dan 01.00 WITA.
Di sisi lain, di perairan tersebut setidaknya terdapat empat kawasan yang terpengaruh langsung oleh pasang surut laut Balikpapan yakni Samboja dan sekitarnya, Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Kabupaten Paser.
Di kawasan pesisir tersebut juga tersebar banyak tambak yang masih aktif, sehingga ketika ada pasang laut, maka dikhawatirkan budi daya warga baik udang, ikan, maupun kepiting di tambak bisa hilang, akibat terdampak arus laut.
"Pasang laut juga bisa mengganggu aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas warga yang tinggal di kawasan pesisir, bahkan bisa jadi air laut masuk ke pemukiman warga yang dekat pantai. Terlebih jika terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, maka air hujan yang seharusnya masuk ke laut akan tertahan yang kemudian menjadi banjir," papar Diyan.
Peringatan dini juga disampaikan untuk warga di sejumlah kawasan pesisir lain di Kaltim, seperti di muara Sungai Mahakam (Pulau Nubi) dan sekitarnya, yakni pasang tertinggi diperkirakan pada 31 Maret dengan ketinggian 2,8 meter pada pukul 07.00 WITA, surut terendah 0,2 meter pada 30 dan 31 Maret, pukul 01.00; 13.00 dan 14.00 Wita.
"Kemudian di Muara Sungai Berau prakiraan pasang tertinggi tanggal 31 Maret dengan ketinggian 2,9 meter pada pukul 09.00 WITA, sementara surut terendah 0,0 meter pada 30 dan 31 Maret 2025 pada pukul 15.00 dan 16.00 WITA," tutup Diyan.
Editor: Aspian Nur