Tanpa Ditemani Orang Tua, Remaja Korban Persetubuhan Lapor Seorang Diri ke Polsek
1 menit baca369 kali dibaca

Penulis: Nancy
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Seorang remaja berusia 14 tahun yang masih menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Samarinda, diduga menjadi korban persetubuhan.
Peristiwa tersebut terungkap ketika Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun, dihubungi oleh salah satu anggota polwan, Selasa (18/2/2025) sekitar pukul 18.11 WITA. Dalam penyampaiannya, terdapat seorang anak mendatangi polsek untuk membuat laporan atas dugaan persetubuhan.
“Saya dihubungi saat itu posisi masih di Kutai Timur (Kutim) untuk menangani kasus. Petugas itu mengatakan anak ini datang seorang diri untuk melaporkan dugaan persetubuhan oleh orang terdekatnya, karena dia masih dibawah umur harus ada pendampingan,” ungkapnya.
Mendapat informasi tersebut, Rina segera menghubungi anggota TRC PPA untuk menjemput korban di polsek. Namun, saat ditanya, remaja perempuan tersebut menyatakan tidak ingin pulang ke rumahnya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membawa korban ke rumah aman.
“Alasan dia tidak mau pulang, karena sang ayah yang mengetahui dugaan persetubuhan itu tidak mau mendampingi untuk laporan ke kepolisian,” tuturnya.
“Korban ini sudah memberi tahu ayahnya, tetapi ayahnya tidak mau memberikan keadilan, makanya dia kecewa, sehingga memberanikan diri datang ke polsek untuk melaporkan hal itu,” sambungnya.
Rina menambahkan pasca kembali ke Samarinda, langsung menemui anak tersebut untuk melakukan asessment.
“Saya sama tim melakukan pendalaman terkait kasus dugaan persetubuhan itu, dengan menggali informasi, sebagai dasar nantinya membuat laporan di kepolisian,” imbuhnya.
Dari pengakuan korban, persetubuhan yang dilakukan oleh orang terdekatnya itu, terjadi sejak 2022 hingga 2024 lalu.
“Selama tiga tahun itu, pengakuannya sebanyak tiga kali, dan disertai dengan ancaman. Ini akan terus kami gali keterangannya,” sebutnya.
Terkait dengan kondisi korban saat ini masih akan menenangkan korban, lantaran masih merasa trauma.
“Ini masih kami stabilkan dulu emosinya karena masih trauma, apalagi dia sudah tidak memiliki ibu, karena telah meninggal dunia sejak setahun lalu,” pungkasnya.
Editor: Erwin









