AH mengumpulkan Balai Wilayah Sungai (BWS), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kota dan provinsi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada rapat tersebut.
Kepada wartawan di Anjungan Karang Mumus Kantor Balaikota Jalan Kusuma Bangsa, Andi Harun memaparkan berbagai penyebab terjadinya banjir pada awal 2025 ini.
Namun yang paling utama AH, sapaan akrab Andi Harun, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat yang terdampak banjir.
“Sejak jam dua sore tadi kami melakukan rapat terkait banjir yang terjadi beberapa hari terakhir ini, terutama sejak 26 Januari kemarin,” kata AH.
Diakui AH, rapat yang berlangsung dua jam itu membahas terkait teknis untuk mengatasi banjir yang terjadi dibeberapa titik di Kota Tepian.
Secara garis besar program penanganan banjir dari Pemkot Samarinda memang belum tuntas dikerjakan, karena pengerjaannya berkesinambungan dari tahun ke tahun.
“Sehingga harapan Samarinda bebas banjir secara maksimal masih membutuhkan waktu di masa kini dan yang akan datang,” ucap AH.
Meski begitu dirinya berkomitmen untuk melanjutkan penanganan banjir di Samarinda bersama Kementrian PUPR, dan PUPR provinsi. Secara umum AH juga membeberkan progres positif dari program pengendalian banjir.
Berdasarkan laporan BWS, luas genangan yang terjadi diawal tahun 2025 ini secara umum akibat dari limpasan air Sungai Karang Mumus (SKM) namun debitnya mengalami pengurangan dibandingkan kejadian serupa sebelumnya
Jika diperhatikan, pada 2022 lalu, luas genangan banjir mencapai 482 hektar sedangkan pada 2025 ini menjadi 314 hektar.
Editor: Aspian Nur