Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas layanan darurat di kota tersebut.
“Samarinda membutuhkan sistem komunikasi darurat yang lebih terintegrasi. Selama ini, layanan yang ada masih bersifat parsial dan belum optimal,” ujar AH, sapaan akrab Andi Harun kepada Korankaltim.com Sabtu (25/1/2025) hari ini.
Saat ini, Samarinda memiliki layanan darurat 112, yang diluncurkan pada 2019 dan dikelola oleh Diskominfo Samarinda.
Namun, dia menyoroti keterbatasan sistem tersebut, terutama terkait koordinasi antarinstansi yang dinilai masih kurang efektif.
“Kami tidak ingin laporan darurat hanya dilempar kesana kemari. Dengan SECC, setiap kejadian dapat langsung ditangani tanpa harus menunggu proses yang panjang,” tegasnya.
Gedung SECC nantinya akan menjadi pusat komando yang melibatkan berbagai instansi, seperti BPBD, Dinas Kesehatan, pemadam kebakaran, TNI, dan Polri.
Dengan teknologi canggih, lokasi pelapor akan terdeteksi secara akurat hingga detail jalan, kelurahan, dan kecamatan.
“Seperti sistem 911, kita akan mampu mengetahui lokasi penelpon secara real-time. Hal ini sangat penting, terutama untuk kondisi darurat seperti bencana atau kebutuhan medis,” jelas AH.
Teknologi yang diterapkan juga dirancang untuk menghindari laporan palsu. Operator dapat segera mengidentifikasi informasi yang tidak valid, sehingga fokus tetap pada penanganan laporan nyata.
Rencana ini akan direalisasikan secara bertahap mulai tahun depan, mencakup pembangunan fisik gedung SECC dan pengembangan sistem komunikasi yang sesuai dengan standar nasional.
“Kami ingin menghadirkan layanan darurat yang tidak hanya cepat, tapi juga modern dan andal, seperti yang sering kita lihat di negara maju,” tambahnya.
Editor Aspian Nur