Akibatnya, anak Sungai Mahakam meluap sehingga mengakibatkan puluhan rumah di Jalan KH Harun Nafsi dan Jalan Rukun di Kecamatan Loa Janan Ilir terendam.
Salah satu warga yang terdampak, Muhammad Tesar (19), menceritakan bahwa debit air terus meningkat hingga mencapai ketinggian 1,5 meter pada sore hari.
“Air mulai masuk ke rumah sekitar pukul 11.22 WITA. Padahal selepas Subuh hujan sudah berhenti, tapi banjir terus naik,” ungkapnya.
Tesar dan keluarganya memilih untuk tetap bertahan di rumah meski tengah terendam banjir. Mereka sudah mengantisipasi kejadian ini dengan memindahkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.
“Banjir ini sudah sering terjadi, biasanya aliran air dari Rapak Dalam menuju Sungai Mahakam yang menyebabkan genangan di daerah kami,” tambah mahasiswa ISBI tersebut.
Meski berbagai upaya, seperti revitalisasi anak sungai dan pembangunan drainase, telah dilakukan, banjir tahunan di kawasan ini tetap menjadi masalah yang belum terselesaikan. Tesar berharap air segera surut agar aktivitas warga kembali normal.
Fenomena banjir di Samarinda memang kerap terjadi saat musim hujan, terutama pada periode November hingga Februari. Kondisi ini menunjukkan perlunya langkah lebih serius dari Pemerintah Kota Samarinda untuk menanggulangi banjir berulang yang menjadi momok bagi warga setempat.
Editor: Erwin