Akademisi Unmul: Tugu Pesut Mahakam Perlu Narasi Pendukung
2 menit baca328 kali dibaca

Penulis: Ainur Rofiah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) turut memberikan tanggapan terkait desain Tugu Pesut Mahakam yang terletak di Simpang Mal Lembuswana.
Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, Rina Juwita, menyampaikan bahwa Tugu Pesut dapat dilihat sebagai representasi modernisasi dengan desain yang minimalis dan kontemporer.
“Di mana ini mencerminkan upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk memperkuat citra kota sebagai pusat urban yang modern dan dinamis,” kata wanita yang akrab disapa Rina itu, Selasa (7/1/2025).
Disisi lain, desain ini menimbulkan kontroversi terkait makna lokal, karena tidak secara langsung merepresentasikan identitas khas Samarinda, yaitu Pesut Mahakam, secara literal.
Hal ini berisiko menimbulkan kritik tugu ini lebih menonjolkan elemen estetika daripada menyampaikan pesan kultural yang kuat.
Selain itu, dalam konteks ekologi, sebagai simbol yang diklaim mewakili Pesut Mahakam yang merupakan spesies yang terancam punah dan menjadi ikon penting Kalimantan Timur (Kaltim).
“Tugu ini seharusnya mampu mengundang kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan habitat Pesut di Sungai Mahakam,” tuturnya.
Namun, pesan ekologis yang vital ini berpotensi hilang dalam interpretasi publik, sebab lebih terfokus pada sisi visual dan abstrak dari desainnya. Alih-alih memahami urgensi konservasi yang melekat pada simbol tersebut.
Wanita yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan II Bidang Akademik FISIP Unmul, menyebutkan secara semiotika Tugu Pesut di Samarinda adalah tanda visual yang kaya interpretasi.
“Akan tetapi keberhasilan komunikasinya bergantung pada konteks dan pemahaman masyarakat. Desain abstrak seperti ini membutuhkan narasi pendukung agar pesan identitas lokal dan kesadaran ekologis dapat tersampaikan dengan lebih efektif,” jelasnya.
Menurutnya, pemerintah dapat memanfaatkan tugu ini sebagai titik awal diskusi publik tentang pentingnya melestarikan ikon lokal seperti Pesut Mahakam.
Simbol pada tugu baru bisa diartikan sebagai pesan konservasi Pesut Mahakam, tetapi makna tersebut tidak muncul secara eksplisit dan cenderung membutuhkan interpretasi atau konteks tambahan untuk dapat dipahami oleh masyarakat.
Apalagi bentuknya yang abstrak, tugu ini tidak secara langsung merepresentasikan Pesut Mahakam, baik dari segi bentuk maupun unsur visual lain yang biasanya diasosiasikan dengan hewan ikonis tersebut.
“Sebagai simbol konservasi, desain seperti ini hanya akan efektif jika didukung oleh narasi yang kuat. Misalnya melalui papan informasi, kampanye publik, atau kegiatan edukasi yang mengaitkan tugu ini dengan pesan pelestarian Pesut Mahakam dan habitatnya,” tegasnya.
“Tanpa elemen pendukung tersebut, simbol ini lebih berisiko dimaknai sebagai elemen estetika atau modernisasi kota, daripada sebagai pesan ekologis yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran konservasi,” tambahnya.
Oleh karena itu, tugu ini dapat memiliki potensi sebagai media pesan konservasi, tetapi diperlukan upaya tambahan agar makna tersebut dapat diterima dan dimengerti oleh masyarakat secara luas.
Editor: Erwin









