Diketahui sebelumnya tanggal 15 November lalu terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh orang tak dikenal di posko penolakan jalur tambang. Dua orang yaitu Rusel yang berusia 60 tahun dinyatakan meninggal dunia sementara Anson berusia 55 tahun sempat kritis akibat kejadian tersebut.
Koordinator Lapangan Aksi KMS Putu menyampaikan aksi tersebut merupakan bagian solidaritas untuk masyarakat yang ada di Muara Kate terkait kasus pembunuhan karena penolakan pengangkutan batu bara melalui jalan umum.
"Hari ini sebenarnya agenda utamanya adalah penyerahan surat somasi kepada Pemerintah Provinsi Kaltim, namun ternyata tidak ada itikad baik dari pemerintah untuk menemui massa aksi,” ujar Putu disela aksi.
Dalam aksi ini massa menuntut pengusutan tuntas kasus pembunuhan tersebut dan pihaknya juga akan terus melakukan penolakan serta mengirimkan surat ke beberapa instansi.
"Mulai dari ke Komnasham, LPSK, hingga ke kepolisian yang sejak awal kami kirimi surat untuk segera mengusut tuntas masalah ini," tegas Putu.
Sejauh ini informasi yang mereka terima pihak kepolisian sudah turun serta pemeriksaan 18 saksi dilapangan. "Tetapi sampai saat ini belum ada (penetapan) tersangka bahkan terduganya pun tidak ada, padahal (kasus) ini sudah berlangsung selama 30 hari," jelasnya.
Dalam aksi hari ini KMS juga sempat mengaitkan kasus ini dengan kasus meninggalnya seorang aktivis di Kalimantan Selatan. "Kami menduga ada keterkaitan antara kasus di Kalsel dengan yang ada di Kaltim. Kalau di Kalsel kasusnya sudah lama menyangkut permasalahan pertambangan kars dan itu satu diantara saksi kuncinya dibunuh," ungkap Putu.
Padahal dalam kasus yang terjadi di Kalsel telah dimenangkan masyarakat sipil, tetapi kementerian kembali menerbitkan izin kepada perusahaan dan lokasi lahan yang ingin di tambang pun sama.
"Kami juga menduga ini ada keterkaitan sebab nama perusahaan yang melakukan pembunuhan atas dua kejadian ini pun sama, selain itu pola-pola yang digunakan dalam tragedi ini sama," sebut Putu.
Editor: Aspian Nur