Kepala DLH Samarinda, Endang Liansyah mengatakan bank sampah ini bermula dari bank rmali, atau bank ramah lingkungan.
“Tujuannya untuk memfasilitasi sampah dengan metode 3R atau Reduce, Reuse dan Recycle. Untuk sarana edukasi dan ada juga sirkular ekonomi,” kata Endang, Selasa (3/12/2024).
Dikonfirmasi usai kegiatan, Endang mengku bank sampah bisa untuk masyarakat, perorangan, badan usaha tingkat RT dan RW, serta kota dan kelurahan. Pada 2023, jumlah bank sampah di samarinda mencapai 90 unit dan di tahun 2024 mencapai 94 unit.
Endang menegaskan, ada pengurangan sampah di 2023 sebesar 0,271 ton, atau 271 Kg. Kini sebanyak 0,343 ton atau 343 Kg per hari.
“Sejak Januari-Oktober 2024 tercatat di DLH Samarinda terkumpul dan diolah sampah organik sebanyak 5,54 ton, sampah kompos 1,5 ton, sampah olahan plastik 40,1 ton,” tegasnya.
Selain itu, terdapat pengaruh ekonomi yang signifikan di tiap bank sampah yang dikelola sejak Januari sampai Oktober. Sampah organik 5,54 ton, kompos 1,5 ton, olahan plastik itu 40,1 ton dengan harga jual kompos Rp2 ribu per kilo.
Dia juga memaparkan pemilahan kertas hvs, duples, piring telur 55,21 ton dengan harga Rp2 ribu per kilo, metal kuningan seng setahun 6,65 ton dengan harga jual Rp10 ribu, kaca setahun 6,48 ton diharga Rp150 ribu per kilo. “Total menghasilkan Rp220 juta lebih, hasilnya ratusan juta,” tegasnya.
Bank sampah ini terdiri Kecamatan Samarinda Ulu 15 unit, Samarinda Utara 10 unit, Sambutan 14 unit, Sungai Pinang 12 unit, Sungai Kunjang 8 unit, Loa Janan Ilir 9 unit, Palaran 10 unit, Samarinda Kota 4 unit, Samarinda Ilir 9 unit dan Samarinda Seberang 11 unit.
“Penghargaan setingginya saya sampaikan ke tim penilai bank sampah yang bekerja keras membantu kami, tahun depan lagi,” tuturnya.
Penghargaan yang diberikan ini diharapkan menjadi trigger, khususnya kepada penggiat atau pemerhati lingkungan.
Editor: Erwin