Hal ini berdasarkan data yang ada pada Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Samarinda dan menurut Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin, Sofyan Agus jumlah tersebut terdiri atas 1.502 jiwa.
“Bulan Juni 2024 lalu ada 987 KK miskin esktrem, setelah kami lakukan analisa dan pengolohan data, sisanya ternyata hanya warga miskin, tapi tidak masuk ke ekstrem,” papar Agus kepada Korankaltim.com Rabu (25/9/2024).
Berdasarkan data awal dari Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) keseluruhan memang masuk dalam masyarakat miskin ekstrem.
Namun setelah Dinsos PM lakukan pendampingan dengan inovasi Gerakan Terpadu Pendampingan dan Fasilitasi atau Graduasi, data menjadi jelas. “Dari inovasi itulah akhirnya kami lakukan pendampingan seperti memantau. Kami pantau kesehariannya, kemudian kesulitannya apa,” ujar Agus lagi.
“Setelah kami lihat, ada sekitar dari 987 KK itu, ada 688 KK yang tidak masuk kategori miskin ekstrem, tapi masuk dalam kategori miskin,” imbuhnya.
Jika melihat data awal tahun 2022 di Samarinda ada 1.601 KK miskin ekstrem kemudian data tersebut di verifikasi dan di validasi (verval) kembali. Pertengahan tahun 2023 tersisa 1.329 KK miskin ekstrem. Setelahnya Dinsos PM lakukan pendampingan sesuai dengan kriteria rumah tangga miskin Kota Samarinda.
“Akhirnya yang benar-benar valid itu 987 KK. Valid dalam kategori miskin, setelah dilihat lagi ternyata ada 688 KK yang sebenarnya sudah tidak miskin ekstrem,” ungkapnya.
Hal itu diketahui dari mereka yang memiliki usaha kecil-kecilan, hingga beberapa anaknya yang bisa bersekolah atau mengikuti kesetaraan pendidikan.
Meski begitu, 688 KK tersebut masih berhak menerima bantuan sosial (bansos), karena masuk kategori masyarakat miskin. “Target 2024 akhir ini kami selesaikan yang masyarakat miskin ekstrem. Insha Allah kalau semua berperan pasti selesai,” tuntas Agus.
Editor: Aspian Nur