Organisasi yang beranggotakan 10 orang ini menilai krisis iklim akan berdampak besar terhadap perempuan. Founder Puan Lestari Hanna Pertiwi menjelaskan, mereka percaya kalau setiap orang dapat menjaga kelestarian lingkungan maka secara tidak langsung akan menjaga perempuan.
“Kalau dilihat dari beberapa kejadian seperti krisis minyak goring yang rata-rata ikut mengantri semuanya adalah perempuan,” ujar Hanna saat memberikan materi bertema 79 Kemerdekaan, Saatnya Perempuan Berdaya Lawan Krisis Iklim.
Selain memberikan edukasi, Puan Lestari ini juga memberikan aplikasi atau turun langsung memberikan pemahaman dan pengalaman tentang bagaimana menjaga lingkungan tersebut. “Kami juga ada diskusi, kegiatan pengolahan pangan dan berbagai praktik-praktik lainnya,” sebutnya.
Puan Lestari berupaya melakukan koordinasi kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kehutanan.
“Karena dinas itulah yang berkaitan erat dengan Puan Lestari ini dan kami juga ingin lebih ke praktik-praktiknya juga,” ujarnya.
Selain berkolaborasi dengan OPD, mereka juga akan berkolaborasi dengan perusahaan melalui dana Corporate Sosial Responsibility (CSR) dan sekolah-sekolah sebagai bentuk dukungan dan niat bersama untuk menjaga lingkungan.
“Tentu kami juga akan berkolaborasi dengan pihak lain seperti sekolah dan perusahaan, tujuannya untuk sama-sama menjaga lingkungan,” ucap Naeva Zahirah, anggota Puan Lestari sekaligus Puteri Pelajar Indonesia Lingkungan 2024.
Sementara Chitia Agustina Wulandari sebagai Owner Oemah Keboen Samarinda juga berharap edukasi ini dapat dirasakan oleh seluruh kalangan dengan tujuan saling menjaga lingkungan.
“Tentu kami ingin semua bisa menjadi agen perubahan dalam menjaga iklim karena kami tahu perempuan selalu menjadi dampak dari perubahan iklim,” ucap Chitia.
Editor: Aspian Nur