Masalahnya ada pada lahan atau lokasi pembangunan yang mana untuk membuat dermaga wisata tersebut ternyata harus menggusur atau memindahkan setidaknya puluhan rumah warga yang ada di sekitaran Masjid Shirathal Mustaqiem di Kelurahan Baqa padahal sejatinya penggusuran dan pembangunan dermaga wisata ini berkaitan dengan destinasi religi dan Sejarah yang ingin disusun oleh pemerintah.
Menurut Camat Samarinda Seberang Aditya Koesprayogi, konsep dermaga ini terbilang bagus “Konsep dermaga wisata itu sebenarnya bagus tapi dalam pembangunannya diperlukan pembebasan area di depan Masjid Shirathal Mustaqiem,” kata Adit kepada Korankaltim.com Kamis (30/5/2024) siang tadi.
Diketahui, dalam pembebasan area itu, pihak kecamatan bersama pemerintah kota juga sudah melaksanakan sosialisasi sebanyak dua kali. Rencana sebelumnya, apabila masyarakat setuju maka pemkot akan melakukan penanganan dampak sosial dan perhitungan untuk nilai ganti ruginya. “Harusnya kami akan melakukan estimasi berapa nilai ganti ruginya,” ucap Aditya lagi.
Namun warga yang tinggal di depan masjid masih ingin bertahan dan mengharapkan penggantian lain selain uang itu. Diakui Adit secara kultur mereka memang sudah sejak lama berada di lokasi tersebut sehingga untuk rencana ini bukannya tidak berjalan, hanya saja belum optimal.
“Karena penanganan dampak sosial ini kan perlu waktu yang cukup panjang. Perlu ada bentuk penggantian bangunan yang mereka tempati. Ada yang punya sertifikat, ada juga yang tidak. Jadi tahapan penanganan dampak sosial masih tertunda, karena warganya yang memang masih tinggal disana,” paparnya.
Warga bersikeras tetap tinggal karena mata pencahariannya memang disekitar situ juga sehingga jika setuju dipindah mereka khawatir selain kehilangan tempat tinggal, mereka juga kehilangan pekerjaan.
Hingga saat ini, pemkot masih mencari jalan terbaik untuk permasalahan ini. Setidaknya perhitungan terakhir masih ada 70 rumah yang menolak digusur. “Kami akan mengkaji dan akan melakukan sosialisasi ulang dengan bentuk-bentuk pendekatan sosial di tahun 2025 nanti,” ungkapnya.
Wali Kota Samarinda Andi Harun sendiri juga sudah menerima informasi itu dan akan mencoba bentuk sosialisasi dan ganti rugi masyarakat yang lain namun di tahun 2025 mendatang mengingat ada beberapa proyek besar yang tengah berjalan sehingga lebih fokus ke proyek tersebut.
“Karena banyak proyek pemerintah yang lain, yang sudah on progress. Sehinga ia ingin fokus ke sana dulu seperti Teras Samarinda, Pasar Pagi, dan terowongan,” tutup Adit.
Diketahui Dermaga Wisata Samarinda Seberang dirancang untuk mengintegrasikan kawasan wisata Masjid Tua dan sekitarnya dengan wisata Mahakam. Masjid Tua Shiratal Mustaqiem masuk dalam jajaran Top 3 wisata religi di Benua Etam dan letaknya strategis karena terintegrasi langsung dengan wisata Kampung Tenun, Kampung Ketupat, Pelabuhan Lama dan Sungai Mahakam tentunya yang berada di Samarinda Seberang.
Editor: Aspian Nur