“Kami ada program bedah rumah dari Dinas Perkim (Perumahan dan Kawasan Permukiman) tapi inikan hanya berlaku buat mereka yang lahannya punya pribadi,” ujar Isfi kepada Korankaltim.com Senin (4/3/2024).
Namun akan berbeda jika mereka yang tidak memiliki tempat tinggal yang dimiliki sendiri, misalnya hanya menumpang tinggal atau bahkan tinggal di pinggir jalan.
Untuk hal itu Isfi membeberkan program bedah rumah itu bisa diganti dengan pemberian lahan atau pembangunan rumah susun untuk mereka. “Kalau dibangunkan rumah susun tidak usah mewah, misal dengan kamar satu, kamar mandi dan ruang tamu depan, lalu dapur kecil, seperti di Jakarta, mereka tidak usah membayar,” jelas Isfi.
Warga miskin bisa membayar listrik dan air sesuai dengan yang mereka pakai saja agar beban mereka bisa berkurang karena tidak lagi memikirkan uang kontrakkan.
Selain itu opsi pemberian lahan untuk tempat tinggal dan berusaha juga bisa. Kalau warga miskin ekstrem diberikan lahan kecil tetapi dipakai untuk menanam sayur tentu bisa mengurangi lagi pengeluaran.
“Beri saja mereka lahan, lalu bangunkan pondok untuk mereka tempat tinggal untuk bercocok tanam, jadi makan selain dari penghasilan, bisa dari yang mereka tanam itu,” tutup Isfi.
Editor: Aspian Nur