Bahkan, saat ini juga diketahui jika mal Plaza Mulia yang sebelumnya masuk dalam tempat relokasi ternyata tidak bisa digunakan. Akhirnya para pedagang menempati Segiri Grosir Samarinda (SGS) yang ada di Jalan Pahlawan atau di atas Pasar Segiri.
“Beberapa waktu lalu, kita lihat pak wali baru mencari tempat untuk urusan parkir. Ini menjadi catatan buat kami, jadi apa yang terjadi, Plaza Mulia belum siap pakai, dan parkir yang overload (kelebihan kapasitas),” ucap Rohim, Senin (12/2/2024).
Khusus untuk parkir yang sering overload, hal yang dikuatirkan adalah jika ada pelanggan yang datang hanya sekadar belanja, tapi enggan kembali karena kesulitan parkir. Hal ini menurutnya harus dikaji lebih awal oleh Pemkot, apalagi menurut Rohim, ada pedagang yang hidup dari penghasilan harian.
“Bahkan termasuk dengan 48 SHM ini, awalnya kami pikir itu sudah include dalam proses perencanaan mereka. Ternyata belakangan kita baru tahu, bahwa finalnya hanya dari satu pihak, yaitu Pemkot saja. Artinya memang Pemkot ini belum cukup siap untuk relokasi,” urainya.
Sebagai penengah, Rohim mengaku menyerahkan penyelesaikan persoalan ini pada Pemkot Samarinda dengan 48 pemilik ruko ber-SHM. Dia tidak ingin masalah ini terus berlanjut hingga saat eksekusi bangunan.
“Yang jadi pertanyaan, kenapa mesti diselesaikan satu tahun. Seperti disampaikan oleh Dinas Perdagangan (Disdag) bahwa seluruh komponen sebetulnya mendukung revitalisasi ini, termasuk DPRD, buktinya ketuk palu,” tegasnya. Kendati demikian, dia berharap target satu tahun pembangunan itu betul-betul selesai. Karena apabila tidak selesai sesuai dengan target ditakutkan ada muncul permasalahan baru.
Editor: Maruly Z