“Melihat kondisi lalu lintas yang saat ini terjadi dibeberapa SPBU sudah tidak signifikan dengan kemacetan, maka dipindah dulu sambil menunggu perkembangan kondisi lalu lintas,” kata Manalu, Rabu (20/12/2023).
Selain itu, pemindahan tersebut juga sambil menunggu kuota Pertalite di Samarinda pada 2024 mendatang. Apabila terjadi penurunan kuota lagi, maka pihaknya akan kembali menggelar rapat terkait dengan strategi apa yang harus segera diambil dalam rangka mengendalikan atau menjaga kuota sampai akhir 2024. Diketahui kuota Samarinda akan disampaikan dari BPH Migas yang diperkirakan pada Januari 2024 mendatang.
“Kuota terkini tahun 2023 itu kita dapat 43 khusus untuk minyak solar itu 49,224 kilo liter (KL) atau 49 juta, kemudian pertalite itu 156,861 KL,” ujarnya.
Sedangkan jika melihat prediksi data kuota tahun 2022, diakui Manalu memang ada terjadi penurunan melihat data di 2023. Dia menambahkan, masih belum diketahui apakah terjadi penurunan kuota lagi pada 2024 mendatang, pihaknya masih menunggu hasil dari BPH Migas.
Maka dari itu pihaknya menunda dulu penerapan ganjil genap. Namun dirinya juga meminta agar para pengguna kendaraan agar tahu diri.
“Masyarakat yang spesifikasi mesinnya wajib menggunakan BBM non subsidi ya lakukanlah. Jangan memakai BBM non subsidi terus, karena itu akan merusak mesinnya,” tegasnya.
Sementara ini, Dishub Samarinda masih memberlakukan jam jual, selanjutnya nanti akan keluar surat edaran Wali Kota Samarinda untuk Pertamina Patra Niaga untuk mematuhi semua pendistribusian BBM subsidi wajib terdafatar di My Pertamina, agar sasaran tepat guna.
Selain itu, Dishub Samarinda juga mewajibkan atau menyarankan pada seluru operator SPBU di Samarinda untuk melakukan digitalisasi nozzle yang terintegrasi dengan semua operator. Nozzle sendiri fungsi yang utama adalah untuk mengatur arah dan karakteristik dari aliran fluida. Biasanya nozzle digunakan untuk meningkatkan kecepatan aliran fluida sesuai dengan tekanan yang diberikan.
“Sehingga kendaraan yang akan membeli di SPBU ini kemudian mereka membeli di SPBU lain langsung tertutup otomatis itu namanya digitalisasi digitalisasi nozzle,” bebernya.
Sesuai dengan surat edarah Wali Kota Samarinda 2022 untuk roda empat maksimal Rp300 ribu atau 30 liter sesuai dengan harga saat ini Rp10 ribu per liter. Untuk kendaraan umum pribadi dan kendaraan yang bersifat online Rp400 ribu atau 40 liter.
Editor: Maruly Z