Salah satu penjual bendera merah putih, Aisyah mengatakan, dagangan bendera yang dia jual belum ramai dibeli. Ia menilai, biasanya ramai pembeli apabila sudah memasuki bulan Agustus mendatang. Bahkan pembeli ada yang datang dari jauh seperti Kabupaten Berau dan Mahakam Ulu (Mahulu).
"Ini belum ramai, biasanya bulan Agustus waktu dekat dekat tanggal 17 baru mulai ramai pembeli, waktu itu ada pembeli dari Berau sama Mahulu juga," ujar Aisyah saat dikonfirmasi korankaltim.com, Minggu (30/7/2023).
Pembeli biasanya kata Aisyah kebanyakan dari sejumlah Rukun Tetangga (RT) termasuk para pengguna jalan yang ingin memeriahkan HUT RI. "Biasanya para RT yang beli, kalau sekarang masih nanya-nanya dulu karenakan belum masuk bulan Agustus, ada juga yang pesan nanti diambil, gitu," ungkapnya.
Semenjak Pemkot Samarinda melarang pedagang kaki lima (PKL) berjualan di trotoar, kini Aisyah mencoba berjualan di halaman komplek GOR Segiri. "Ya, biasa saja sih karena itu kan aturan yang harus dipatuhi, tapi enggak mengganggu pendapatan, Kalau dijalan protokol itu engak bisa jualan, makanya kami jualan itu agak masuk ke dalam, kalau (jualan) di trotoar nanti ditertibkan sama Satpol PP," ucap dia.
Sementara itu, salah seorang penjual bendera merah putih di sekitaran Jalan Pahlawan, Widodo menyampaikan, selain berjualan bendera, dirinya juga ingin ikut meramaikan HUT RI tersebut.
Bendera yang ia jual juga jelasnya masih dapat ditawar oleh pembeli. "Bendera enggak apa ditawar, walaupun NKRI harga mati, tapi bendera harga hidup," ucapnya seraya bercanda.
Sebagai informasi, harga bendera merah putih yang dijual pedagang cukup bervariasi, mulai Rp35-90 ribu dengan ukuran mulai dari 20 x 30 cm sampai 120 x 180 cm.
Sedangkan untuk umbul-umbul berkisar dari Rp25-50 ribu sesuai motif. Sementara untuk bendera background berkisar Rp150-500 ribu, setiap harga disesuaikan dengan ukuran yang ada.
Editor: Maruly Zainuddin