Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinkes Samarinda Ismid Kusasih melalui Sub Koordinator Seksi Pelayanan, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dian Margi Utami. Menurut Dian, di Samarinda kebanyakan kasus berasal dari kucing peliharaan, sedangkan kasus gigitan anjing hanya sedikit. Untuk presentase kasus, gigitan kucing sebesar 73 persen.
Pihaknya juga telah melakukan komunikasi dengan komunitas pencinta kucing terkait data pemelihara kucing. “Kemarin saya telepon dari komunitas kucing (pecinta hewan), ya memang jumlah orang yang memelihara kucing ini meningkat sekarang, jadi interaksi manusia dengan kucing memang banyak,” terangnya.
Selain itu, kebanyakan kucing juga mencari makan disembarang tempat. Sementara untuk penularan rabie juga melalui air liur. Sehingga untuk antsisipasinya dengan memberikan vaksin pada hewan peliharaan. Beruntungnya untuk vaksin kucing relatif murah, yakni Rp20 ribu.
“Harganya murah tapi ketersediaanya terbatas, karena produsennya kosong semua, karena rabies meningkat dan tidak hanya di Samarinda, tapi hampir di seluruh daerah,” tegasnya, Kamis (6/7/2023).
Dia melanjutkan, terkait hal ini dari Dinkes Samarinda menginginkan ada tambahan rabies center, sehingga bisa melakukan pencegahan. Dengan penambahan rabies center, Dian juga menginginkan pengadaan stok vaksin melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sehingga tidak bergantung pada bantuan vaksin dari pemerintah provinsi.
“Saya tidak tahu ya, kan kalau perencanaan ini kita masih mengawang-ngawang dan tidak tahu bisa menambah kuota atau tidak,” urainya.
Untuk sementara ini pihaknya masih mengupayakan ketercukupan stok di empat rabies center, sehingga apabila terjadi kasus, vaksinnya sudah tersedia. Sekadar diketahui, pengadaan vaksin di rumah sakit melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), sedangkan di Puskesmas berasal dari Dinkes.
Sehingga untuk bisa mendapatkan vaksin di rumah sakit, pasien harus bayar dan di Puskesmas gratis. “Biasanya ini stok (vaksin) kosong karena expired (kedaluarsa), sedangkan beberapa tahun belakangan ini sempat habis karena kasus gigitan banyak,” tegasnya.
Editor: Maruly Zainuddin