Tema perayaan adalah menjaga moral dan menjaga keluhuran bangsa ditengah degradasi moral umat manusia.
Ketua Buddhist Centre Kaltim Pandita Hendri Suwito mengaskan pentingnya pesan Waisak tahun ini yaitu bersama-sama dalam berkehidupan bermasyarakat mengukuhkan moral sebagai benteng terakhir untuk memimpin diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
Momentum perayaan Waisak itu bukan hanya pada hari Waisak tetapi sebulan sebelum dan setelahnya. Satu bulan sebelum yaitu melakukan penghayatan dharma dengan cara berkumpul, beranjangsana lalu berkeliling serta melakukan bakti sosial mulai dari donor darah hingga berbagi bantuan kemanusiaan.
"Kami juga mendatangi Taman Makam Pahlawan Samarinda, membersihkan tempat itu dan kami terus lakukam hal positif hingga pada hari puncak waisaknya," papar Pandita Hendri Suwito kepada Korankaltim.com malam tadi.
Pandita pun menjelaskan perbedaan hari perayaan Waisak mengingat di Candi Borobudur baru berlangsung 4 Juni besok yang menurutnya karena ada beberapa majelis atau mazhab.
Di tahun 2023 Masehi ini kalender Imlek mengalami kelebihan satu bulan sehingga ada yang mengamalkan berdasarkan Kalender Bulan pada saat bulan purnama dan ada yang mengambil pada bulan sebelumnya berdasarkan kan kalender umat Buddha.
"Banyak sekali mazhab atau negara negara Buddha yang merayakan hari Waisak pada hari ini. Walaupun dibeberapa negara itu berbeda tapi sebenarnya tidak mengubah makna dari hari Waisak," tegas Pandita.
Selain itu tanggal 25 Juni nanti juga ada rangkaian kegiatan Hari Raya Waisak yaitu Dharma Santi Waisak dan mengundang seluruh tokoh lintas agama.
"Kegiatan tersebut diisi dengan kegiatan seni dan kebudayaan. Jadi perayaan waisak ini dari satu bulan sebelum san satu bulan setelahnya," paparnya.
Sebagai umat Buddha ia berharap ditengah degradasi moral manusia yang kian merosot sudah saat nya untuk merestrukturisasi kembali moral manusia dan mampu menjaga hingga seterusnya.
"Kalau energi positif bisa kita berikan kepada masyarakat maka dapat dipastikan semua akan berjalan damai dan sejahtera, karena kita berada di satu sumber yang sama," tutup Pandita.
Editor: Aspian Nur