Bripka Joko Hadi Aprianto satu diantara beberapa orang tersebut.
Selain seorang anggota polisi, Joko Hadi juga seorang penggali kubur, profesi yang bertolak belakang dengan tugas kesehariannya saat ini.
Sejak kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Joko telah menjadi penggali kuburan di Jalan Tengkawang, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda dan itu dilakoninya hingga saat ini.
"Kalau dihitung-hitung sudah 23 tahun saya jadi tukang gali kubur, kalau sebagai anggota (polisi) hampir 17 tahun," kata Joko kepada Korankaltim.com Rabu (22/3/2023) hari ini.
Diakuinya, menjadi tukang gali kubur merupakan mata pencahariannya, pasalnya ia memiliki tujuh saudara dan kebetulan sang ayah pun merupakan seorang aggota Polri dengan pangkat tamtama kala itu.
"Rejeki waktu itu masih susah, makanya saya bekerja menjadi tukang gali kubur dan meski saya sudah jadi anggota polisi profesi itu tak saya tinggalkan," paparnya
Selama menjadi tukang gali kubur ia mengaku banyak suka duka yang dialaminya.
"Kalau sukanya ya mencari amal, dukanya itu kadang-kadang ada yang komplain yang tidak kami lakukan, karena kan penggali kubur bukan kami saja, ada kelompok lain, ya sebenarnya SK hanya kami, tetapi tidak mau arogan, jadi kami izinkan, tetapi mereka kadang menggali itu tidak dirapikan kembali, sehingga ahli waris komplain ke kami," ungkapnya.
Apa yang Joko lakukan mendapat dukungan dari pimpinannya.
"Alhamdulillah dari pimpinan mendukung dan memberikan izin kalau memang ada kegiatan diluar yang berkaitan dengan gali kuburr arena ini juga bagian dari amanat Polri yaitu mengayomi dan melayani masyarakat, ini bentuk pelayanan kami," jelasnya.
"Kalau dulu mata pencaharian, sekarang ya untuk amal," sambungnya.
Tak hanya menjadi penggali kubur dirinya pun menjual air, kembang, pasir dan bata.
"Karena setiap bulan keperluan itu banyak, makanya saya sediakan disini dan saya kebetulan juga ketua kuburan," sebut Joko.
Gaji yang ia dapat setiap bulan menjadi polisi pun digunakan untuk menombok kekurangan yang ada.
"Setiap bulan pasti nombok, tetapi kan ini untuk amal. Karena saya membawahi 4 kelurahan yaitu Karang Anyar, Karang Asam, Teluk Lerong Ulu dan Lok Bahu, yang saya bayar tiap bulan itu ada listrik Rp100 ribu, air Rp200 ribu, obat rumput Rp1,7 juta, upah nyemprot satu orang Rp130 ribu dikali 4 hari untuk 4 orang, yang bersihkan Rp700 ribu dan penjaga Rp300 ribu, kalau dihitung ya bisa sampai Rp6 jutaan," bebernya.
Disinggung alasanya ia masih betah menjadi tukang gali kubur, ia tak ingin melupakan, karena dirinya hidup dan besar dari gali kuburan.
"Saya tidak mau lupa, saya besar dan hidup dari gali kubur dan sekarang ingin tetap beramal," katanya.
Joko berharap pemerintah bisa memberikan wakaf tanah untuk pelebaran makam.
"Ini kan sudah mulai padat dan sebelahnya ini ada lahan milik Inhutani, ya pemerintah mungkin bisa membantu disumbangkan untuk wakaf," pungkas Joko.
Editor: Aspian Nur