Terkait hal ini, Psikolog dari Universitas Mulawarman Ayunda Ramadhani menyebut, bahwa apa yang dilakukan Ismail Bolong bisa jadi adalah salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Ia mengatakan, secara psikologis manusia bisa melakukan kebohongan salah satunya sebagai upaya mempertahankan diri dari ancaman yang lebih besar.
"Jadi secara psikologis seseorang berbohong untuk mekanisme pertahanan diri itu kembali ke tujuan. Apa untuk dapat keuntungan, apakah dalam situasi tertekan. Perlu dilihat apa karena tekanan atau memang si orang ini punya kecenderungan untuk dia sering berbohong," ungkap Ayunda, kepada Korankaltim.com, Minggu (6/11/2022) siang.
Pengajar di Universitas Mulawarman ini mengaku belum melihat video tersebut secara utuh, sehingga ia menyebut terlalu dini untuk bisa memberikan penilaian secara menyeluruh terkait apa saja kemungkinan yang terjadi secara psikologis terhadap Ismail Bolong. Namun, secara umum ia mengatakan bahwa sejatinya manusia akan menunjukkan tanda-tanda ketika apa yang dikatakannya adalah kebohongan.
"Bicaranya terbata-bata, ekspresi wajah akan nampak karena dia sebenarnya pasti lelah mencari kalimat yang relevan dengan ceritanya. Lalu akan ada inskonsistensi dari ceritanya, ekspresi nampak lainnya sering menggaruk hidung, dan matanya menatap ke atas. Itu beberapa ciri. Walaupun tidak semua ciri itu pasti bohong," bebernya.
Untuk itu, ia mengaku tak bisa memberikan penilaian terkait apakah Ismail Bolong melakukan kebohongan di video pertama atau video kedua. Untuk yang satu ini, perlu dilakukan penyelidikan untuk mendapatkan fakta-fakta yang sebenarnya. (*)
Editor: Rusdi