
"Samarinda sebagai penyangga ekonomi IKN harusnya masyarakat paham dengan investasi," kata Haji Rasyid.
Saat berbicara tentang ekonomi negara maka berbicaranya makro. Namun perlu disadari bagaimana orang menjadi makro jika tidak menguasai wilayah mikro untuk jadi makro.
Negara membutuhkan sokongan modal besar, indeks saham gabungan. "Kalau tidak menguasai itu, bursa efek dikuasai asing maka seberapa kuat ekonomi yang Indonesia miliki," tegas Haji Rasyid lagi.
Terkait investasi bodong, sejatinya kian menjamur dan SPM jadi garda terdepan memberikan pengetahuan mana yang investasi bodong dan tidak punya izin. "SPM ini nanti akan berkelanjutan sampai unsur fundamental," jelasnya.
Diharapkan peserta dapat mengikuti batch selanjutnya dan bisa memahaminya. "Agar semua bisa menjadi ekonomi selanjutnya," ucap Haji Rasyid.
HIPMI ke depan akan bekerjasama dengan Bursa Efek Indonesia untuk menciptakan pelaku ekonom selanjutnya.
Terpisah, Bernanto Pardosi mengatakan dengan SPM masyarakat bisa mengetahui produk investasi bukan yang hanya konvensional, seperti tanah bangunan tapi berbagai instrumen investasi di saham.
"Meminimalkan untuk tidak ke investasi bodong harapan besar agar masyarakat khususnya bisa mengerti," sebut Bernanto.
Pada batch lanjutan nanti akan menyesuaikan minat dari investor dan mereka tidak akan meninggalkan peserta, tetap memberikan pendampingan baik offline maupun online.
Dinda Ayu Amalliya pada kesempatan acara tadi menyampaikan kolaborasi ini diharapkan dapat terus berjalan, difasilitasi untuk dapat melakukan rutin.
"Harapannya setelah ini bisa berlanjut untuk belajar pada tingkatan berikutnya," ujar Dinda. (*/kk)
Penulis : */Faishal Ays
Editor: Aspian Nur