"Museum ini memang diharapkan tidak hanya jadi tempat bersejarah tetapi juga bisa menjadi pusat studi, penelitian, wisata dan kuliner," tutur Kasi Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Samarinda, Ainun Jariah kepada Korankaltim.com Kamis (2/6/2022) hari ini.
Tiga tahun telah beroperasi, Ainun menyebutkan koleksi yang dimiliki berasal dari lokal Samarinda dan tak menutup nantinya koleksi yang dihasilkan berasal dari luar Samarinda yang terpenting koleksi yang didapatkan masih seputar kebudayaan di Benua Etam.
"Kami punya kurang lebih 263 koleksi kebanyakan dari Samarinda, ada tempayan atau guci, beberapa khas Samarinda seperti alat musik, kain Samarinda, tas, pakaian khas, sejarah wali kota dari masa ke masa kemudian beberapa dokumentasi rekam jejak sejarah Samarinda," papar Ainun.
Setiap tahun koleksi yang masuk tidak bisa ditargetkan jumlahnya sebab penambahan koleksi biasanya merupakan hasil dari hibah masyarakat yang memiliki koleksi barang antik.
"Koleksi dari hasil hibah dan juga kita sesuaikan dengan anggaran yang diberikan karena biasanya biaya tebusnya itu yang tidak sesuai, yergantung lagi dari berapa dana yang disiapkan oleh pemerintah dan dari hibahnya ke masyarakat," ujar Ainun.
Dua koleksi baru yang masuk kedalam museum Samarendah diantaranya prasasti Yupa dan Piala Parasamya. Pemilihan koleksi sendiri terbilang membutuhkan waktu yang Panjang, mulai dari pendataan, pengecekan hingga identifikasi lebih jauh mengenai koleksi sejarah yang harus dimasukan dalam museum. “Banyak yang mau masukan tapi banyak yang tidak sesuai," ungkap Ainun.
Penulis: Linda Mulyani
Editor: Aspian Nur