"Filosofinya, perusahaan itu kan mengeksploitasi sumberdaya alam Kaltim, ada risiko lingkungan dan sosial pada masyarakat sekitar lokasi tambang. Istilahnya CSR jangan keluar dari orbitnya," kata Ketua Umum Pengurus Pusat IKA Fahutan Unmul Sarkowi V Zahry.
Menurut Sarkowi, sangat tidak adil dan melukai hati masyarakat Kaltim, karena keuntungan diperoleh dari Kaltim. Sudah semestinya perguruan tinggi dan mahasiswa di Kaltim yang menjadi prioritas. Apalagi pelajar dan mahasiswa yang berada di sekitar tambang tentunya lebih diprioritaskan lagi.
"Oleh karena itu, kami menyarankan Bapak Gubernur Kaltim melakukan evaluasi program CSR perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kaltim dimulai perusahaan tambang yang sedang jadi sorotan," ucapnya.
Sarkowi khawatir, pemberian CSR ke luar Kaltim ini sudah berlangsung lama, namun baru diketahui publik. Padahal seharusnya bukan hanya CSR, perusahaan harus mempunyai program yang jelas terhadap sektor-sektor lain seperti penanggulangan bencana, perbaikan lingkungan dan lain lain.
"Dengan evaluasi Program CSR akan jelas programnya untuk apa dan untuk siapa, seberapa besar porsinya serta bagaimana efektivitasnya," ungkap Wakil Ketua Komisi III DPRD Kaltim ini.
Ia juga heran dengan pemberian CSR keluar Kaltim ini. Perlu diketahui lebih banyak sebagai bahan evaluasi dan menjawab banyak pertanyaan. "Ini kan janggal ya, apakah ada unsur kesengajaan perusahaan memang kurang peduli perguruan tinggi di Kaltim? Atau di perusahaan itu tidak ada alumni perguruan tinggi di Kaltim yang bisa memberi saran, atau penyebab lain. Ini perlu dicari tau jawabannya untuk evaluasi semua," kata Sarkowi yang juga Mahasiswa Program Doktoral (S3) Ilmu Lingkungan Unmul ini.
Penulis: Faishal Ays
Editor: Supiansyah