Setelah itu pada tahun 1996 ia mengikuti kejuaraan petinju profesional pada di Surabaya, Jawa Timur (Jatim).
"Saya bisa ikut petinju profesional itu saat merantau ke Surabaya, itu ikut kakak saya. Selama tiga bulan nganggur, baru masuk ke sasana ikut seleksi masuk asrama untuk menjadi petinju profesional dan Puji Tuhan lolos di kelas 57,1 kg," ungkapnya.
"Dari situ saya mulai ikut-ikut kejuaraan nasional dan menjadi juara. Saya juga sempat ikut kejuaraan mencari peringkat itu tahun 1997 di Thailand," sambungnya.
Pada tahun yang sama, ia juga sempat mengikuti kejurnas tinju Piala Menpora dan Pangdam. "Saya ikut ajang-ajang nasional dan menjadi juara dikelas 57,1 kg spesialis saya," imbuhnya.
Hingga akhirnya pada akhir 1998,ia pun mendapat tawaran untuk masuk menjadi polisi dan tak pikir panjang ia pun langsung menerima tawaran tersebut.
"Iya ditawarin manager saya, karena saya berprestasi, dan langsung masuk pendidikan tahun 1998-1999 di Balikpapan. Setelah itu ditugaskan di Samarinda sampai sekarang," bebernya.
Meski telah menjadi seorang polisi, ia tak lantas melupakan hobinya yang mengantarkannya hingga bisa seperti saat ini.
"2001 saya mulai latihan lagi di Samarinda, di GOR Segiri, tetapi tidak diterima karena sudah profesional, makanya ditawarin jadi pelatih sampai sekarang, tapi sempat vakum beberapa tahun karena ada tugas, dan sekarang aktif lagi melatih untuk Pengcab Pertina Samarinda," terangnya.
Saat ini sebanyak 21 anak asuh yang ia latih di Gedung Behampas Kompleks Stadion Segiri, setiap Senin-Jumat pada sore hari. Dua di antara anak asuhnya itu merupakan putra kandungnya.
"Dua anak saya umur 11 dan 15 tahun saya latih tinju juga, berharap bisa menjadi penerus ke depan, menjadi petinju profesional," tandasnya.
Penulis: Nancy
Editor: Supiansyah