Selain animo masyarakat beranggapan bahwa wisata kuliner Ramadan hanya menyediakan makanan. Keperluan masyarakat saat ini banyak kepada konsumsi pakaian lebaran.
"Karena lebih ke kuliner jadi 10 hari sebelum lebaran ini orang banyak pergi ke mall mungkin ya tapi penjualan tetap untuk baju anak-anak masih di atas rata-rata lah," kata Retno, Selasa (26/4/2022).
Retno tak menyangka setiap harinya selalu ada pembeli meskipun pengunjung mulai menyurut. Sepuluh hari terakhir paling sedikit ia meraup keuntungan Rp400 ribu hingga Rp1 juta di luar ekspetasinya karena produk yang ditawarkan pun nilai jualnya tidak terlalu tinggi yakni sekitar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per buahnya.
"Jadi kalau sehari dapat Rp1 juta itu sudah di luar ekspetasi. Di luar Ramadan saya penjualannya secara online," Ungkapnya.
Senada, Siti Rahmah salah seorang penjual kuliner siap saji merasa bersyukur karena pendapatan Ramadan kali ini lebih meningkat dibanding tahun sebelumnya. Rahmah telah berpuluh-puluh tahun berjualan merasa senang dengan konsep baru yang ada di wisata Ramadan, baginya sangat membantu penjualannya.
"Dengan konsep yang baru ini lebih bagus dibanding taun lalu, ada tenda kaya pengantin, lebih rapi, saya sudah lama jualan disini hampir puluhan tahun," kata Siti Rahmah.
Sepuluh hari pertama Rahmah meraup keuntungan mencapai Rp7 juta. Namun hingga akhir Ramadan ini pendapatan berkurang lantaran cuaca yang tidak stabil mengakibatkan pengunjung tak ramai lagi.
"Alhamdulillah dari pada tahun tadi, karena ini cuma banyak hujan jadi agak kurang pembeli. Waktu awal-awal itu pendapatan seminggu pertama Rp7 juta. Setelah itu hujan terus jadi kurang pengunjung tapi bisa dapat Rp3,5 juta di akhir-akhir ini," Terangnya.
Diketahui juga panitia pelaksana Wisata Kuliner Ramadan 1443 Hijriah juga menerapkan pembayaran dengan non tunai yakni menggunakan Qris. Namun pada pelaksanaannya ternyata penggunaan Qris masih dirasa menyulitkan pengunjung dan pembayaran tunai masih banyak digunakan masyarakat.
Penulis: Linda Mulyani
Editor: Supiansyah