Menurut Suwarso, mengungkapkan peristiwa serupa berpotensi kembali terjadi karena tanah yang berada di perbukitan masih memiliki sifat labil atau tak kokoh. Hanya saja antisipasi terhadap hal itu sudah dilakukan
Penanganan sementara memungkinkan untuk dapat membendung erupsi susulan. "Penanganan sementara dilakukan oleh masyarakat sementara jangka panjang akan dilakukan oleh PUPR Samarinda, kami bersama Disdamkar melakukan pembersihan material tanah akibat erupsi," ujar Suwarso.
Penanganan yang dimaksud adalah membangun pagar menggunakan bahan dasar kayu ulin untuk dapat membendung tanah yang berjatuhan.
Suwarso menegaskan peristiwa yang terjadi pada petang kemarin bukan merupakan bencana alam longsor, melainkan erupsi tanah, dimana material tanah berguguran terbawa arus saat Samarinda diguyur hujan. "Bukan longsor ya, tapi erupsi tanah di bukit, apalagi kemarin intensitas hujan deras sekitar 70 milimeter," paparnya.
Menumpuknya material tanah lempung yang membentuk gumpalan-gumpalan menyumbat saluran air yang berada di kawasan lingkungan tersebut.
Material tanah pun meluap hingga ke permukaan jalan bahkan ada pula masuk ke rumah warga.
Diharapkan Suwarno penanganan sementara setidaknya dapat berjalan efektif hingga penanganan jangka panjang akan menyentuh lokasi tersebut untuk membendung terjadinya erupsi tanah dikemudian hari.
Penulis : Claudius Vico
Editor: Aspian Nur