Warga di kawasan itu memasang pohon Natal di depan rumah mereka dengan menggunakan kayu bekas.
Ketua RT 07, Yuliana Tumonglo menjelaskan, kreativitas warganya tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 2019 silam.
"Ini sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu, tetapi memang tidak seramai tahun ini, karena sebumnya kan tidak boleh merayakan karena pandemi," kata Yuliana kepada Korankaltim.com Senin (13/12/2021) malam tadi.
"Ini bentuk syukur dan kebahagiaan mereka, sehingga mereka lebih semangat dalam berkreasi, menghiasi pohon Natal dari barang-barang bekas," sambungnya.
Saat ditanya terkait awal ide membuat pohon tersebut, ia mengaku memang langsung dari warga sendiri dan kemudian diikuti warga lainnya.
"Inisiatif warga sendiri, disamping itu juga karena pohon Natal harganya cukup mahal, makanya mereka memiliki ide membuat dari kayu bekas, tali nilon dan botol bekas. Jadi, paling mereka hanya mengeluarkan biaya untuk membeli lampu LED, yang satu meternya hanya Rp 20 ribu saja," ungkapnya.
Yuliana pun menyebutkan jika memang ide-ide membuat pohon natal dari barang-barang bekas, dengan dipajang di depan rumah, melihat referensi dari internet.
"Mereka bilang seperti di luar negeri, kan memang awalnya dari pohon pucuk, tetapi karena keamanan juga ya kami buat yang lebih tinggi," jelas Yuliana.
Warga di RT 07 diakuinya mayoritas umat kristiani, juga biasa disebut Kampung Tana Toraja (Tator).
"Ada juga kiai yang pernah masuk gang ini dan bilang disini bagus disebut Kampung Toleransi, karena memang disini kami saling menghormati. Selain itu, ada nilai positifnya banyak warga dari luar yang masuk kalau malam itu foto-foto," tutupnya.
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur