Apalagi semenjak adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
"Setelah penumpang turun drastis, mau gak mau saya jual angkot di tempat besi tua, karena uang hasil angkot tidak mencukupi biaya sehari-hari dan perbaikan. Itu pun susah jualnya, makanya ke besi tua saja," ungkapnya saat ditemui di lokasi jaga parkirannya Jalan M Yamin, Jumat (20/8/2021).
Meski telah menjual angkot miliknya, dirinya tetap sekali-sekali tetap menarik angkot jika rekannya yang istirahat, terkadang ia juga diminta untuk menjadi sopir ambulans.
"Paling gak ya, bisalah untuk mencukupi keperluan sehari-hari, dan alhamdulillah istri saya juga bekerja sebagai asisten rumah tangga," tuturnya.
Hal ini juga terjadi sama teman-teman sopir angkot lainnya, banyak dari mereka tak bisa membayar uang sewa rumah, dan akhirnya tidur di angkot sendiri.
"Kalau yang ada anak istri ya dipulangkan ke kampung, dan tadi juga ada teman yang kehabisan bensin, pinjam uang, karena teman saya kasih tapi ya tidak banyak. Karena karena memang saya masih dipercaya teman-teman sebagai Sekjen Orgatrans dan Forum Gabungan Sopir Samarinda dan Truk," bebernya.
Husen juga mengatakan setelah nyambi menjadi juru parkir, penghasilannya juga lumayan, meski memang tetap menyetorkan hasil dari jukir.
"Iya, setor sama yang punya parkiran, kalau jaga setengah hari dapatnya tidak tentu sekitar Rp 90-100 ribu. Itu langsung saya setor, dan saya kasih, biasanya Rp 50-60 ribu," ucapnya.
Ia berharap dari pemerintah, bisa lebih memperhatikan para sopir angkot ini.
"Dulu memang pernah didata sama Dishub untuk diberikan sembako, tetapi sampai sekarang tidak ada, sudah lama hampir setahunan. Waktu itu pun dapat dari Polresta Samarinda, dan itu dibagi-bagi lagi ke sopir lainnya," ujarnya
"Malah justru saat ini yang lebih mendapat perhatian dari driver online, ya kami berharap juga bisa sama seperti itu," pungkasnya.
Penulis:Nancy
Editor : Bambang Irawan