Setahun berlalu, dua tahun sudah lewat, berita soal corona tak juga mereda. Sejatinya sebelum Idulfitri 1442 Hijriyah tahun 2021 ini, berita soal Covid-19 sempat menurun karena grafik yang melandai.
Namun hanya dua pekan setelah Lebaran, kini berita soal Covid-19 baik yang positif maupun yang meninggal dunia, kembali mendominasi, terutama media elektronik. Hampir semua televisi swasta di Tanah Air sepanjang hari memberitakan Covid-19.
Tak ayal, masyarakat pun mulai merasa bosan, jenuh dan meninggalkan berita-berita tersebut.
Kepada korankaltim.com, H Syafrani, warga Sempaja, mengaku sudah meninggalkan berita di televisi dan koran kalau memberitakan soal corona. “Saya sudah bosan, setiap hari beritanya soal corona, lama-lama bisa stress saya, waswas, khawatir karena berita seperti itu sepanjang hari,” kata Syafrani.
Sebenarnya informasi yang diberikan media kepada masyarakat sangat bagus menurut pria 52 tahun ini, namun karena selalu disampaikan sepanjang hari, sudah pasti membuat bosan. “Bangun tidur nonton berita di televisi isinya soal Covid, mau tidak juga beritanya begitu lagi, seharian berita seperti itu bikin mental bisa terganggu karena takut. Kalau pun ada berita di luar corona porsinya sangat sedikit. Saya kira itu juga kurang bagus untuk masyarakat karena kehidupan sehari-hari diwarnai kekhawatiran menonton atau membaca berita Covid-19,” paparnya.
Syafrani pun memilih untuk tidak lagi menonton berita apa pun terkait Covid-19 di televisi. “Saya mengalihkan channel kalau ada berita soal corona, saya cari berita lain yang bisa menghibur pikiran,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Hj Nurbayah. Ibu rumah tangga warga Air Putih ini mengaku tidak senang dengan siaran beberapa televisi yang memberitakan sepanjang hari soal Covid-19. “Saya pribadi merasa khawatir jadinya, tidak ada berita lain selain corona yang isi beritanya juga membuat khawatir,” ujar Nurbayah.
Berita seperti penambahan pasien Covid-19, rumah sakit yang penuh dan tak bisa menampung hingga pasien yang meninggal dunia membuat psikologi penonton kata Nurbayah bisa terganggu.
“Yang ada dipikiran saya sekarang cuma corona karena setiap hari beritanya itu-itu terus. Waswas saya, hidup seperti dikelilingi corona padahal kondisi sempat membaik. Gara-gara berita begitu yang sebenarnya tidak terjadi di Samarinda, sekarang saya dan teman-teman saya ikut merasa khawatir. Jadi sekarang saya dan keluarga juga menghindari berita soal corona di televisi,” jelasnya.
Yang pasti menurut Nurbayah, kalau masyarakat disiplin dengan protocol kesehatan, semua akan terkendali. “Tetap patuhi peraturan pemerintah, pakai masker yang utama, jaga jarak dan menghindari berkumpul atau makan di luar rumah karena kita tidak tahu terpapar virus ini dari mana,” tutup Nurbayah.
Psikolog Ifa H Misbach asal Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu pernah menyampaikan kalau derasnya arus informasi tentang corona membuat masyarakat memang harus kritis, selektif dan tidak mudah menelan mentah-mentah informasi yang didapat.
"Pada situasi pandemi covid-19 kita harus selektif menerima informasi disertai menjaga dan memperkuat imunitas. Pasalnya jika terkena stres mempengaruhi imunitas sehingga serangan virus mudah masuk. Akibatnya kita terjangkit sakit," kata Ifa mengutip dari mediaindonesia.com.
Secara psikologis kalau terus menerus menerima informasi mengenai Covid-19 bisa memunculkan dampak pada masalah fisik dan psikis, seperti stres, sulit tidur, sakit kepala atau migrain, otot tegang, nyeri dada dan lain lain.
Ifa yang juga Kepala Klinik Psikologi RS Melinda Bandung, Jawa Barat ini meminta masyarakat mengedepankan sikap rasional dalam menerima dan mencerna informasi yang bersumber dari berbagai media termasuk medsos.
”Pertama, mengutamakan untuk menyaring dan menerima informasi dari media-media yang kredibel. Kedua, dengan melatih otak untuk tetap skeptis terhadap seluruh informasi yang datang. "Kita harus memilah milah informasi yang masuk disertai sikap skeptis dulu. Lihat, apakah kalimatnya bombastis. Kita berlatih bahwa semua informasi ini tidak semuanya dapat dipercaya terlebih dulu, " cetus Ifa.
Langkah ketiga dengan menarik diri dari informasi-informasi tertentu yang memiliki dampak emosi berlebihan.
Penulis/Editor: Aspian Nur